Posted on Leave a comment

“Wind Talkers” dan Integritas yang Dipertanyakan Kembali

Editor : Heru Margianto

DI tengah pertempuran melawan pasukan Jepang di pulau Saipan, Prajurit Ben Yahzee, seorang radio-man keturunan Indian Navajo mengingatkan kembali argumentasi di antara para pasukan Amerika yang terjebak di pertempuran itu. Mereka kalah jumlah, kalah pemahaman medan, dan secara moral sudah nyaris tumbang.

“Remember Marine, ours is not to question why, ours is but to do or die. Semper Fi. Over!” (Ingat-ingatlah marinir, bukan tugas kita mempertanyakan mengapa, tugas kita hanya melakukannya atau kita mati. Tetaplah setia. Ganti!)

Dalam penyerbuan pasukan Amerika ke pulau Saipan, Jepang, pada Perang Dunia II, pasukan marinir Amerika merekrut beberapa suku Indian Navajo sebagai penyampai pesan sandi (encoder) antar pasukan Amerika dalam bahasa Navajo.

Jepang sangat lihat mengintersepsi setiap pesan radio melalui teknologi komunikasi mereka saat itu. Satu-satunya cara adalah berkirim pesan sandi dalam bahasa yang tak pernah dipahami pasukan Jepang: bahasa Navajo.

Seorang marinir yang cakap, Joe Enders, ditugaskan memimpin pasukan kecil untuk melindungi para Navajo tersebut bahkan dengan nyawanya sendiri.

Para Navajo harus tetap hidup, karena melalui merekalah koordinasi antar pasukan Amerika tetap dijaga rapi, akurat dan tak dapat diendus musuh.

Joe Enders pun harus memastikan, tak ada peluru satupun yang boleh menembus tubuh Ben Yahzee. Ia bahkan siap mati untuk itu.

Gambaran penyerbuan di pulau Saipan dipresentasikan dengan sempurna oleh John Woo, sutradara film epic “Wind Talkers” (2002).

Ini bukan film epic kepahlawanan biasa, bukan soal rela mati membela tanah air, bukan soal penaklukan satu bangsa atas bangsa lain. Ini adalah soal moral, menjaga kode, menjaga orang-orang yang melindungi kode, agar tatanan yang baik tetap terjaga.

Penjaga kode

Siapa yang akan menjaga kode?

Mari kita lihat alegori-nya.

Beberapa waktu lalu Senator Richard J. Durbin dari Partai Demokrat Illinois bertanya kepada Mark Zuckerberg, apakah ia nyaman untuk memberitahu publik dan para senator di Capitol di hotel mana tepatnya ia menginap tadi malam di DC.

Lalu, apakah ia juga cukup nyaman memberitahukan kepada siapa saja ia mengirimkan teks pesan selama seminggu terakhir ini. Zuckerberg dengan suara lirih menjawab, “Tidak. Saya mungkin tidak akan memilih untuk mengatakannya di depan publik.”

Dan Senator Durbin menjawab, “Saya pikir inilah intisari pembicaraan ini, yakni mengenai hak privasimu. Batas-batas hakmu atas privasi, dan seberapa besar kamu ikhlaskan privasimu atas nama connecting people around the world di negara Amerika yang modern ini.”

Zuckerberg hanya bisa tertunduk. Saya kira kita pun harus tertunduk. Kita semua, … bukankah kita ini para Navajo yang dengan bahasa khas bertutur melalui semesta maya dengan Navajo-Navajo lainnya?

Siapa yang akan melindungi kita, para ‘Navajo’ selain para ‘Joe Enders’ di Silicon Valley dan lembah-lembah teknologi yang tersebar di seluruh dunia?

Ada perdebatan soal moral atas nama kemajuan zaman dan soal keterbukaan sukarela atas nama media sosial dan internet. Apakah seseorang yang secara sukarela memberikan data-data pribadinya sebelum ia memutuskan setuju menginstal aplikasi di gawai cerdas harus dipertanyakan kembali kesukarelaannya tersebut hanya karena satu insiden yang mungkin “tidak disengaja” atau “tidak bisa dikendalikan” oleh pengelola platform?

Mark Zuckerberg tidak bisa dipersalahkan sendirian. Di satu waktu, dia sendiri adalah seorang “Navajo”, dan dia juga perlu dilindungi oleh “Joe Enders” yang lain.

Di semesta maya yang nyaris semua orang bisa berpeluang jadi anonim, siapa yang bisa menjamin integritas jaringan dan konten?

Bahwa ada kebocoran, ada kesalahan teknis yang menyebabkan privasi menjadi terpapar ke publik, tentu itu perlu dikoreksi, diperbaiki, tapi setiap “Navajo” harus memastikan bahwa integritas di atas segalanya.

Saat integritas diuji

Saya mencoba membayangkan sebuah skenario lain bila dalam kisah penyerbuan di pulau Saipan tersebut Ben Yahzee, si Navajo, sengaja mengarang sebuah informasi palsu – atau hoax – untuk pasukan Amerika di titik tempur yang lain, bayangkan saja seberapa besar bencana yang akan dialami oleh para pasukan Amerika di tanah asing tersebut?

Masih dalam skenario saya, akhirnya Joe Enders tertangkap dan ditawan bersama Ben Yahzee dalam kurungan yang sama di barak pasukan Jepang. Lalu dengan kemurkaan yang amat sangat Joe Enders bertanya kepada Ben Yahzee…”Why?”

“Why?” jawab Ben Yahzee. “Why should I protect the country that protects only the Whites. I am just your slaves. You ask me why? Why not!”

Sebuah respon yang tak bertanggungjawab! Untunglah itu hanya skenario imajiner saya saja. Tapi, bukankah hal seperti itu bisa saja terjadi?

Di dunia yang serba terkoneksi ini, tak ada ruang untuk kebohongan, tak ada ruang untuk perusak integritas sosial dan moral. Semua orang adalah Joe Enders, dan di saat yang sama adalah para Navajo.

Tugas kita sederhana, menjaga kode, menjaga moral, menjaga integritas, agar rumah bersama yang sehari-hari kita sebut negeri ini tetap bisa berdiri dengan kokoh, dalam harmoni dan kebersamaan, di mana orang-orang saling melindungi seolah tak ada yang lebih berharga daripada keluarga besar negeri ini sendiri.

Akhirnya, kisah Senator Durbin dalam konteks ini tak bicara soal privasi semata, namun lebih besar daripada itu, kode. Kode moral, kode integritas, kepercayaan yang dijunjung tinggi, saling keterhubungan,dan saling ketergantungan. Di era sharing-economy saat ini, apalagi kalau bukan kepercayaan dan integritas yang jadi pegangan para “Navajo”?

Dalam kisah di Pulau Saipan itu, Joe Enders akhirnya mati, Ben Yahzee – si Navajo berkulit merah – selamat, dan pasukan Amerika, meski berdarah-darah, menang.

Sekembalinya ke Amerika, Ben Yahzee duduk di atas Point Mesa, Monument Valley di Arizona bersama istri dan anaknya, George Washington Yahzee. Sambil memandang anaknya, Ben Yahzee berkata,

“Namanya Joe Enders, dari Philadelphia Selatan. Ia pejuang yang tangguh, marinir yang baik. Jika kamu akan menceritakan tentang dirinya George, katakan dia adalah sahabatku…”

Sekali lagi, Ben Yahzee mengajarkan arti sebuah kode: bukan untuk mempertanyakannya, tapi untuk menjalankannya atau kita akan mati.

Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “”Wind Talkers” dan Integritas yang Dipertanyakan Kembali”, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/20/15410431/wind-talkers-dan-integritas-yang-dipertanyakan-kembali?page=all.

Editor : Heru Margianto

Posted on Leave a comment

Futurism #2: Butterfly Effect

Editor : Heru Margianto

SATU hari Minggu yang tak begitu indah. Seekor tikus menemukan remah-remah makanan. Ia makan sebutir. Lalu berjalan terus sembari memakan butiran-butiran selanjutnya.

Ia tak berpikir soal kemana butiran remah-remah itu akan membawanya: ke jebakan tikus, atau ke sumber remah-remah yang lebih aduhai.

Saat ia menemukan sumber remah-remah adalah sebuah kantong kertas yang berlubang di atas meja makan, ia balik ke sarangnya dan mengajak dua saudaranya untuk menyerbu kantong bolong itu ramai-ramai. Ia tak tahu isinya apa. Yang jelas enak.

Saat ketiganya sampai di meja, si empunya kantong sudah menunggu mereka dengan gagang sapu. Dalam sekali sabetan satu dari tiga tikus itu terlempar menghantam vas bunga cantik di meja. Vas pecah, bunga segar berhamburan.

Dua tikus yang selamat berlari ke dua arah yang berbeda. Si pemburu mengejar satu tikus sembari melempar sapu ke tikus lainnya. Luput. Sapu mengenai mouse laptop yang tak sengaja meng-klik tombol “send” di layar.
.

Tikus yang lain lari terkencing-kencing melintasi belakang TV dengan colokan-colokan stop kontak yang bertumpuk-tumpuk. Korslet. TV, DVD Player, Decoder TV Kabel, semuanya terbakar.

Kausalitas

Satu tikus mati. Dua selamat. Si pemburu – pemilik kantong kertas yang bolong – hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Malam harinya istrinya mengamuk vas bunga kesukaannya hancur. Itu vas bunga yang sangat sentimental.

Pagi harinya direktur perusahaan ngamuk, melihat materi email yang belum selesai sudah dikirimkan ke para pemegang saham.

Sore harinya ia harus membayar hampir 1.200 dolar untuk reparasi TV, DVD Player, Decoder dan beberapa piranti elektronik yang ikut korslet.

Kausalitas. Sebab akibat. Bukankah ini menggemakan kembali teori kekacauan Edward Lorenz tentang efek kepakan sayap kupu-kupu (butterfly effect)?

Lorenz, ahli matematika dan seorang meteorolog, menganalogikan bahwa kepakan saya kupu-kupu di hutan di Brazil secara teoretis dapat memicu munculnya badai tornado di wilayah Texas, ribuan mil jauhnya.

Benarkah bisa begitu?

Mari kita cermati kembali petualangan satu tikus yang menemukan remah-remah dalam kisah tadi.

Apakah ia bisa dipersalahkan atas memburuknya hubungan si pemilik kantong kertas dengan istrinya?

Apakah tikus itu harus bertanggungjawab atas dipecatnya si pemilik kantong kertas dari perusahaannya?

Bisakah, dalam konteks yang lebih ekstrem, suami dan istri bercerai gara-gara seekor tikus makan remah-remah?

Atau, seorang manajer perusahaan dipecat karena gagang sapu?

Hal sederhana yang memicu terobosan besar

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai Futurism: Economy of Faith and Hope telah sedikit disinggung mengenai bagaimana kita menghubungkan titik-titik di masa lampau, memahami polanya, dan memprediksikan probabilitas yang akan terjadi di masa depan.

Tulisan kali ini lebih teknis. Soal logika. Mungkin orang-orang IT akan menyebutnya dengan ‘algoritma’.

Futurism di dalam esensinya adalah proses belajar menciptakan ‘suatu produk’ dalam imajinasi.

Namun begitu, imajinasi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia lahir dari percikan-percikan pengalaman dan permenungan masa lampau.

Ungkapan Lorenz yang menyatakan bahwa kepakan sayap kupu-kupu, secara teori, sangat mungkin menjadi badai di belahan dunia lainnya, adalah refleksi dari probabilitas dalam Futurism.

Dengan kata lain, hal-hal sederhana yang menjadi serentetan kejadian (series of events) di masa lampau akan melahirkan terobosan besar dalam imajinasi dan pemikiran-pemikiran yang pada akhirnya bermuara ke suatu ‘produk final’ di dalam benak.

Produk final ini tinggal menunggu waktu yang tepat, sumber daya yang tepat, dan lingkungan yang tepat untuk meledak dalam dunia nyata. Oh ya, lingkungan yang dimaksud termasuk soal regulasi.

Futurism dan Inovasi

Beberapa simulasi yang dilakukan dalam proses inovasi bisnis dan produk sering mengacu pada hal-hal tadi. Nasihat terbaik untuk berinovasi dan memikirkan terobosan masa depan adalah dengan melihat apa yang kurang dari titik-titik event masa lampau.

Bila terobosan tersebut mampu mengisi setiap kekurangan di masa lampau, maka peluang untuk berhasilnya produk inovasi tersebut sangat tinggi. Bukan sekadar ada dan ‘fashionable’ atau keren, tetapi ada untuk suatu alasan yang belum terjawab di masa lampau.

Sekali lagi, hukum kausalitas berlaku.

Saat saya melihat pisau lipat Victorinox buatan Swiss misalnya, saya melihat mahakarya yang pada jamannya mungkin dicibiri. Bagi saya, pisau lipat itu adalah contoh disrupsi pertama saat revolusi industri sedang bertransformasi dari 2.0 menuju 3.0.

Ini adalah penemuan yang lebih spektakular ketimbang revolusi digital saat ini, karena pisau lipat itu adalah produk yang secara akurat menjawab kekosongan dari titik-titik di masa lampau untuk kebutuhan peralatan sehari-hari yang praktis, multiguna, dan tentu saja keren.

Cara anda memahami pisau lipat ini, jangan lihat apa yang bisa ia lakukan di masa depan, tetapi bagaimana awal mulanya sehingga ia lahir dan diciptakan.

Cara yang sama akan Anda pakai untuk melihat bagaimana akhirnya lahir perusahaan-perusahaan berbasis teknologi digital seperti Amazon, PayPall, Uber dan AirBnB. Keempat perusahaan itu telah direplikasi ratusan kali di seluruh dunia. Replikasi itu, meminjam istilah Lorenz, adalah tornadonya.

Kita tidak bisa melihat mereka seperti adanya sekarang ini, tetapi lihatlah sepuluh dua puluh tahun lalu, kekosongan apa yang menarik perhatian Amazon dkk tersebut.

Hari ini Anda memang sedang melihat ‘badai tornadonya’, tapi apakah anda sudah berhasil melihat ‘kepakan sayap kupu-kupunya’? That’s my point.

Cara kebanyakan industri atau bisnis memperlakukan futurism adalah dengan menarik garis lurus dari hari ini ke masa depan, melihat badai tornado di depan sana.

Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple, tak akan setuju dengan metode ini. Kita, industri dan bisnis, seharusnya menarik garis dari satu titik di masa lampau ke titik di hari ini.

Kita harus mampu melihat kepakan sayap kupu-kupu itu dulu sebelum berbicara soal tornadonya. Begitulah protokolnya.

Hanya dengan cara ini, imajinasi-imajinasi kita tak hanya berisi sampah busuk, tetapi gagasan-gagasan yang menjawab tantangan dan kebutuhan masa depan.

“So many things are possible as long as you don’t know they are impossible.” – Mildred D. Taylor.





Lupakan tornadonya. Semoga kita segera menemukan kepakan sayap kupu-kupu itu.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Futurism #2: Butterfly Effect”, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/09/193435326/futurism-2-butterfly-effect?page=all.

Editor : Heru Margianto

Posted on Leave a comment

Cool Village: True North, Kesejatian Yang Diperdebatkan

Editor Wisnu Nugroho

Saya selalu tertarik melihat cuplikan-cuplikan film Amerika saat fragmen menayangkan seseorang bersaksi di ruang pengadilan.

Bukan event-nya yang menarik, tetapi bagaimana kesaksian dimulai, dan lalu kita mendengar seorang saksi mengucapkan sumpahnya …”the truth, the whole truth, and nothing but the truth”.

Hmm, …whose truth? Yours, mine or theirs?

Kata ‘truth’ sampai diucapkan tiga kali dalam satu kalimat yang mengkonformasi begitu pentingnya kata itu dalam makna dan interpretasinya.

Truth – atau kebenaran – seolah menjadi kunci gembok untuk mengikat seseorang agar hanya selalu berkata benar dan jujur.

Well, saya tak punya masalah dengan hal ini sampai beberapa menit lalu, hingga entah dewa petir mana menghantam kepala saya untuk memutar kembali diskursus-diskursus selama beberapa tahun terakhir di negeri ini dalam balutan post-truth.

Dan saya mencoba mengurainya sedikit demi sedikit. Ceritanya begini…

Kebenaran baru yang dilahirkan rumor

Mukijo, sebut saja begitu namanya, mendadak ingin iseng pagi itu. Saat menghampiri teman-teman sepenganggurannya di sebuah warung kopi, ia mengatakan bahwa dua orang bule terlihat membawa-bawa peralatan lengkap sedang menyusuri sungai di pinggir dusun mereka.

Dengan menampakkan wajah yang meyakinkan, Mukijo mengatakan bahwa dua orang bule itu sedang meneliti bagian sungai di dusun karena telah ditemukan butiran-butiran emas minggu lalu di sana. Mungkin dusun mereka kaya akan butiran emas, dan sebuah perusahaan tambang asing sedang melakukan observasi.

Saat Mukijo mengakhiri bicaranya, tak ada satu pun temannya yang menanggapi. Mereka tampak mendengarkan, tapi rasa-rasanya tak begitu tertarik mengomentari.

Tak lama kemudian kerumunan di warung kopi di pagi itu bubar, seolah tak terjadi apapun.

Sore harinya Mukijo terheran-heran, warung kopi sepi, bahkan sang penjual pun tak ada. Tak ada dagangannya pula.

Seorang tetangganya lewat, dan Mukijo ditanya mengapa tak ikut pergi ke sungai untuk mencari butiran-butiran emas.

Banyak penduduk kampung berbondong-bondong ke sana membawa tampah bambu dan saringan.

Mukijo terkesima, terkejut, tapi dalam hati tertawa ngakak…..(“betapa anehnya penduduk dusun di sini” – begitu gumamnya). Sore berlalu. Senyum Mukijo semakin lebar.

Paginya dusun benar-benar sepi. Ternyata hampir semua penduduk sibuk mencari butiran-butiran emas di sungai.

Saat Mukijo ke sana, sesekali terdengar suara riuh tepukan tangan, atau sorakan orang-orang tanda suka cita. Dari kejauhan Mukijo hanya terpana….lalu mulai berpikir, “jangan-jangan memang ada butiran emas di sungai. Aku harus bergegas ikut ke sana!”.

Dan Mukijo pun turun ke sungai. Tak jauh dari situ dua bule yang ternyata hanya turis biasa heran kenapa orang-orang dusun mendadak berkerumun di sungai.

Seorang turis berkata kepada turis lainnya, “We are so lucky! We come here just right in the midst of cultural festivity!”

Dengan kamera mereka, beberapa jepretan terdengar di tengah riuhnya penduduk yang terhipnotis rumor tentang emas di sungai.

True North - True Truth

Memperdebatkan soal bagaimana mungkin penduduk satu dusun dapat terbius oleh keisengan Mukijo tak serumit menjelajahi pikiran Mukijo bagaimana ia bisa terhipnotis oleh tipuannya sendiri.

Saya pun tak mungkin mampu memecahkan teka-teki itu. Lalu saya ingat dengan istilah geografis ‘true north’, yang merupakan kependekan dari ‘the true geodetic north’, sebuah terminologi untuk membedakan dengan ‘another north’, yang dikenal sebagai ‘magnetic north’.

Jangan khawatir soal terminologi di atas. Begini saja, bayangkan anda memegang kompas – tak masalah apakah itu kompas analog kuno dengan jarum magnet atau kompas digital yang aplikasinya banyak ditemukan di smartphone kita – dan lihatlah, jarum itu akan menunjukkan di mana ‘tepatnya’ arah utara (north).

Saat kita sedang menjelajah hutan, gunung maupun berlayar, memegang kompas ini seperti menjadi pegangan yang lebih penting daripada uang di dompet kita. Kita berharap, kompas itu menunjukkan kita arah perjalanan yang tepat, yang akurat, sehingga kita tidak tersesat.

Masalahnya, kompas itu sebenarnya tidak dengan tepat menunjukkan arah utara sejati (true north) yang merupakan sumbu perputaran bumi. Tapi, mengapa harus ada dua referensi berbeda yang dianggap sama-sama mewakili kebenaran tertentu? Mengapa tak dilipat saja jadi satu, atau pilih salah satu, dan patenkan sebagai ‘the real true north’. Saya termenung sejenak.

Kata ‘true’ sudah terlanjur dipakai di mana-mana, bahkan dalam penamaan akun-akun media sosial. Seperti sahabat kita Mukijo tadi, karena akun bernama ‘mukijo’ sudah berseri-seri, Mukijo sahabat kita ini tak rela menomori nama akunnya dengan ‘mukijo28’ atau ‘mukijo1975’, lalu ia putuskan untuk memilih nama akun ‘truemukijo’.

Celakanya, nama ‘truemukijo’ sudah dipakai orang lain. Sejam kemudian ia berhasil memilih nama akun ‘therealandtruemukijo’. Mukijo puas. Dan seperti kita duga, sama dengan ‘true north’, tak ada yang benar-benar bisa meyakini benar apakah referensi itu benar-benar mewakili ‘suatu kebenaran’.

Seperti di seri Cool Village sebelumnya yang saya tulis di media digital ini, saya selalu tergerak untuk menjaga optimisme penduduk ‘desa kecil’ bernama Indonesia ini, tertutama anak-anak mudanya, untuk selalu peka terhadap hal-hal positif dan benar (real truth).

Setiap hari kita dihujani dengan 2,5 quintilion bytes data/informasi (ref: forbes.com), itu angka 2,5 dengan 15 angka nol di belakangnya!

Jadi, bagaimana mungkin kita bisa memilah mana informasi yang layak diandalkan sebagai referensi sahih, valid dan dapat dipertanggungjawabkan?

Teknologi AI ( artificial intelligence) dan ML ( machine learning) mungkin mampu memilah-milahnya untuk kita, tetapi hanya kebijaksanaan kita yang mampu memahami dan menyikapi data atau informasi tersebut.

Kasus perburuan butiran emas di dusun Mukijo tak harus terjadi di desa kecil kita ini. Dan biarlah masing-masing kita bisa meminjam semangat bersumpah ‘the truth, the whole truth, and nothing but the truth’ sebelum kita berucap, bertindak bahkan sebelum bereaksi dalam pikiran kita.

Bangsa ini sedang ditempa semesta, sebagian mungkin tak lulus karena satu dan lain hal, tetapi bila sebagian besar ‘penduduk desa’ yang keren ini mau dan berkomitmen berbuat hanya untuk kebaikan seluruh penduduk desa, tak ada yang tak mungkin.

Sambil menikmati singkong goreng dan kopi di sore hari, saya merenungkan kembali kata-kata Albert Einstein, “If you are out to describe the truth, leave the elegance to the tailor.”

Memang tak ada butiran emas ditemukan di sungai, tapi, bukankah alam semesta ini adil? Setiap daya upaya dan kebaikan pasti – sesuai hukum tabur tuai – memberikan reward terbaik bagi kita.

Semoga.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Cool Village: True North, Kesejatian Yang Diperdebatkan”, https://ekonomi.kompas.com/read/2019/02/15/152441026/cool-village-true-north-kesejatian-yang-diperdebatkan?page=all.

Editor : Wisnu Nugroho

Posted on Leave a comment

Sekolah untuk Orang Bosan, Mungkinkah?

Editor : Heru Margianto

Untuk sesaat keheningan melanda audience.

Mina Morita bukanlah sosialita. Ia bahkan tak terlalu dikenal di kampus tempat ia menjadi pembicara TEDx. Ia hanya ingin berbagi cerita bagaimana banyak sahabatnya curhat mengenai perkara yang kurang lebih sama: bosan bekerja.

Apakah karena soal remunerasi? Konflik kolegial? Jam kerja yang terlalu panjang?

Bukan. Tak ada yang membicarakannya secara pasti apa penyebab mereka bosan. Mereka hanya…bosan.

Kisah yang dibagikan Mina Morita di Universitas Chapman, California, tak jauh berbeda dengan kisah anak-anak muda – millenials – yang merasa pekerjaan telah memenjarakan kebebasan mereka

Bukan soal jam kerja semata, atau gaji, tapi lebih dari itu…mereka lebih menginginkan suatu aktivitas yang ‘gue banget’ yang menyenangkan mereka. Uang hanyalah akibat.

Ribuan kilometer dari California, di Seoul, Korea Selatan, beberapa eksekutif muda yang bekerja di sebuah pabrikan smartphone terbesar di dunia, satu persatu rontok meninggalkan pekerjaan mereka.

Gaji mereka di perusahaan itu sebagai freshgrad saja sudah setara dengan 60.000 dolar Amerika per tahun, dan itu sama dengan tiga kali lipat rata-rata penghasilan freshgrad di perusahaan-perusahaan lain di Korea Selatan.

Ke mana mereka pergi? Ke perusahaan kompetitor? Ke industri lain? Merintis jadi usahawan dan buka bisnis?

Ternyata tidak. Sebagian besar dari mereka lebih memilih menjadi youtuber, blogger, gamer (esport athlete) atau lifestyle influencer.

Sebagian lainnya memilih kembali ke desa dan buka kebun sayuran. Banyak yang benar-benar hanya memakai tabungan mereka untuk merintis ‘karir’ baru tersebut.

School of Quitting Jobs

Salah satu yang memilih resign dari pabrikan smartphone itu, Jang Su-han, dengan sedikit iseng mendirikan sebuah sekolah yang belum pernah ada di planet ini: School of Quitting Jobs.

Sekolah nyleneh yang ia dirikan di tahun 2016 itu rupanya berhasil menarik minat 7000-an orang untuk belajar di sana.

nda memiliki gen futurist, modul-modul seperti ‘How to brainstorm a Plan B’, atau ‘Managing Identity Crisis’, hingga ke modul pasaran seperti ‘How to Youtube’, tampaknya adalah hal-hal yang baru hit saat ini di kalangan millenial.

Di pintu masuk sekolahnya tertulis “Don’t tell your bosses, say nothing even if you run into college, and never get caught until your graduation.”

Mina Morita benar dalam hal ini. Ada sesuatu yang dulu benar kini menjadi sangat salah.

Dulu, meski sekarang sebenarnya masih ada yang mengejar, orang bekerja untuk stabilitas keuangan, mendapatkan jaminan kesehatan dan tunjangan-tunjangan yang ‘membahagiakan’ karyawan.

Ketika pertama kali bekerja, barangkali Mina dan juga Jang Su-han mengejar hal-hal itu tadi. Namun dalam perjalanannya, banyak hal yang baru mereka sadari tak dapat mereka kendalikan, termasuk jalur karir mereka sendiri.

Di Korea Selatan misalnya, budaya korporat konglomerasi gaya Chaebol berbeda dengan di Amerika atau Eropa. Perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan menganut kultur budaya hirarki yang sangat ketat dan kuat, jenjang karir sangat tergantung senioritas, dan nyaris mustahil karir naik saat atasannya masih berada di posisinya.

Masalah bertambah besar tatkala lulusan-lulusan universitas memiliki ketrampilan yang homogen alias kurang diversifikasi.

Anak-anak muda yang sudah terlanjur terjebak di korporat, tak peduli berapa lama mereka sudah berada di sana, memiliki kedenderungan untuk rontok di satu dua tahun ini.

California dan Seoul mewakili gelombang besar-besaran dari dari trend ‘kebosanan yang amat sangat’ di seluruh dunia. Dan seperti kata-kata Mina Morita, “It’s time for something new” menjadi trend baru.

Milenial Indonesia

Lalu saya ingat desa saya sendiri, Indonesia. Setahun terakhir ini saya berkesempatan mengamati beberapa tempat eksotiknya tempat para milenial berkumpul di korporat: Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogya, dan Surabaya. Saya banyak berbicara dengan corporate HR di beberapa perusahaan yang saya sambangi.

Di tengah hiruk-pikuk politik saat penduduk sedang memilih kepala desa, saya melihat anak-anak mudanya masih belum tertular virus California dan Korea itu. Sebagian besar masih ingin melihat dunia yang ideal melalui perkantoran-perkantoran yang mapan.

Semangat berkarir untuk ikut sumbangsih bagi desa masih kental, dan anak-anak muda ini sangat bersemangat menjadi life-long learner.

Berbeda dengan para lulusan universitas Korea yang dianggap kira-kira homogen lah, anak-anak muda kita di sini jauh lebih terbuka pada peluang-peluang di luar bidang ilmu dan keahlian mereka.

MLM (multi level marketing) misalnya. Anak-anak muda kita seperti tergila-gila olehnya. Mendadak mereka menjadi multi-tasker, sembari mengerjakan pekerjaan kantornya, mereka juga membangun jaringan jualan apa saja yang ditawarkan pasar dan diminta pasar.

Sulit melihat anak-anak muda California dan Korea Selatan berbondong-bondong nongkrong di satu tempat untuk mem-prospek calom member baru MLM seperti di Indonesia.

Di desa ini, kebersamaan, kekeluargaan, keterhubungan, sangatlah kuat. Mereka tak sempat bosan. Berpikir tentangnya pun tak sempat.

Gaya hidup komunal

Ada beberapa hal yang saya temukan dari fenomena ini.

Pertama, anak-anak muda kita terbiasa hidup komunal, berkongsi, bersosial. Mereka tak pernah kesepian, apalagi kehabisan ide.

an bus kota. Gaya hidup anak-anak muda seperti ini belum sepenuhnya dikapitalisasi

aman yang diatur oleh berbagai ekosistem, kolaborasi menjadi faktor penentu keberhasilan kolektif. Bermain sendirian cenderung berakhir buruk.

Kedua, bosan adalah buah dari rutinitas yang dipatok, dipagari sendiri. Bangsa yang gampang bosan biasanya terjebak dalam rutinitas yang jauh dari sifat ketekunan.

Bagaimana mungkin seorang petani bisa bertahan menunggu matangnya padi dari hari ke hari? Bagaimana pula seorang guru tak bosan mengajarkan pelajaran yang sama dari waktu ke waktu seumur hidupnya?

– penduduk desa kecil bernama Indonesia ini memiliki benih ketekunan yang luar biasa.

Saya curiga, mungkinkah anak-anak muda di California dan Korea itu sudah mentok pada satu titik jenuh di mana semangat bertekun tak lagi tersedia di kamus kehidupan mereka?

Atau kah, mereka telah melihat masa depan yang jauh lebih baik yang mata kita masih belum mampu menatapnya?

Ketiga, di sini, anomali adalah the new normal. Setiap hari harus ada hal baru, syukur-syukur kejutan, susah ditebak. Anak-anak muda kita yang hidup di korporat ingin melihat, mendengar dan menikmati hal-hal baru setiap hari.

Menurut riset OECD tahun 2018 lalu, Indonesia berada pada urutan ke 3 negara paling buruk dalam keseimbangan antara bekerja dan menikmati kehidupan (14.3%) setelah Turki (23.3%) dan Korea Selatan (22.6%). Semakin besar persentasenya semakin buruk.

Dalam asumsinya, rata-rata pekerja di Indonesia bisa bekerja hingga 60 jam per minggu. Jepang (9.2%) dan China (5.8%) yang dikenal sebagai bangsa gila kerja saja jauh lebih baik kondisinya daripada Indonesia.

Bertahan di dunia korporat

Anehnya …banyak eksekutif muda kita yang bertahan di dunia korporat. Seandainya pun mereka mundur, mereka akan mencari kehidupan korporat lainnya.

Ke mana pun mereka pergi, mereka selalu mencari situasi dan kondisi yang sama. Hanya sedikit saja yang nekat menjadi pengusaha, dan jauh lebih sedikit lagi yang survived hingga tahun-tahun berikutnya sampai bisnis mereka mapan. Beberapa yang gagal akhirnya mengulangi lagi kurva belajar di kuadran awal, menjadi karyawan korporat.

Kiranya, School of Quitting Jobs tak akan laris manis di sini. Pada kenyataannya banyak sekali yang ingin quit the job, tapi sedikit saja yang benar-benar merealisasikannya.

Di satu sisi saya sedih karena nyali menjadi komoditi yang sangat mahal di Indonesia, namun di sisi lain, elastisitas terhadap tekanan pekerjaan membuat mereka menjadi lebih berhati-hati terhadap perubahan mendadak dan besar.

eki di warung dan toko mereka.

Barangkali, itulah yang membuat ribuan warteg tegak berdiri di tengah serbuan waralaba restoran cepat saji modern, dan mungkin itu pula mengapa penjual-penjual mie ayam masih bisa menyekolahkan anak-anaknya di Jerman dan Australia.

Dan bila ada pembaca yang benar-benar sudah bosan kerja kantoran, barangkali ini saatnya anda mendaftar di sekolah Jang Su-han, School of Quitting Jobs.

Jangan lupa, seperti kata Jang Su-han sendiri, “don’t tell your bosses.”

Cool Village:

Sekolah Orang Bosan. Mungkinkah?

AC Mahendra K Datu

Untuk sesaat keheningan melanda audience.

Mina Morita bukanlah sosialita. Ia bahkan tak terlalu dikenal di kampus tempat ia menjadi pembicara TEDx. Ia hanya ingin berbagi cerita bagaimana banyak sahabatnya curhat mengenai perkara yang kurang lebih sama: bosan bekerja.

Apakah karena soal remunerasi? Konflik kolegial? Jam kerja yang terlalu panjang?

Bukan. Tak ada yang membicarakannya secara pasti apa penyebab mereka bosan. Mereka hanya…bosan.

Kisah yang dibagikan Mina Morita di Universitas Chapman, California, tak jauh berbeda dengan kisah anak-anak muda – millenials – yang merasa pekerjaan telah memenjarakan kebebasan mereka.

gue banget’ yang menyenangkan mereka. Uang hanyalah akibat.

Ribuan kilometer dari California, di Seoul, Korea Selatan, beberapa eksekutif muda yang bekerja di sebuah pabrikan smartphone terbesar di dunia, satu persatu rontok meninggalkan pekerjaan mereka.

freshgrad di perusahaan-perusahaan lain di Korea Selatan.

Ke mana mereka pergi? Ke perusahaan kompetitor? Ke industri lain? Merintis jadi usahawan dan buka bisnis?

Ternyata tidak. Sebagian besar dari mereka lebih memilih menjadi youtuber, blogger, gamer (esport athlete) atau lifestyle influencer.

Sebagian lainnya memilih kembali ke desa dan buka kebun sayuran. Banyak yang benar-benar hanya memakai tabungan mereka untuk merintis ‘karir’ baru tersebut.

resign dari pabrikan smartphone itu, Jang Su-han, dengan sedikit iseng mendirikan sebuah sekolah yang belum pernah ada di planet ini: School of Quitting Jobs.

nyleneh yang ia dirikan di tahun 2016 itu rupanya berhasil menarik minat 7000-an orang untuk belajar di sana.

hit saat ini di kalangan millenial.

Don’t tell your bosses, say nothing even if you run into college, and never get caught until your graduation.”

Mina Morita benar dalam hal ini. Ada sesuatu yang dulu benar kini menjadi sangat salah.

Dulu, meski sekarang sebenarnya masih ada yang mengejar, orang bekerja untuk stabilitas keuangan, mendapatkan jaminan kesehatan dan tunjangan-tunjangan yang ‘membahagiakan’ karyawan.

Ketika pertama kali bekerja, barangkali Mina dan juga Jang Su-han mengejar hal-hal itu tadi. Namun dalam perjalanannya, banyak hal yang baru mereka sadari tak dapat mereka kendalikan, termasuk jalur karir mereka sendiri.

Di Korea Selatan misalnya, budaya korporat konglomerasi gaya Chaebol berbeda dengan di Amerika atau Eropa. Perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan menganut kultur budaya hirarki yang sangat ketat dan kuat, jenjang karir sangat tergantung senioritas, dan nyaris mustahil karir naik saat atasannya masih berada di posisinya.

Masalah bertambah besar tatkala lulusan-lulusan universitas memiliki ketrampilan yang homogen alias kurang diversifikasi.

Anak-anak muda yang sudah terlanjur terjebak di korporat, tak peduli berapa lama mereka sudah berada di sana, memiliki kedenderungan untuk rontok di satu dua tahun ini.

It’s time for something new” menjadi trend baru.

Lalu saya ingat desa saya sendiri, Indonesia. Setahun terakhir ini saya berkesempatan mengamati beberapa tempat eksotiknya tempat para millenials berkumpul di korporat: Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogya, dan Surabaya. Saya banyak berbicara dengan corporate HR di beberapa perusahaan yang saya sambangi.

Di tengah hiruk-pikuk politik saat penduduk sedang memilih kepala desa, saya melihat anak-anak mudanya masih belum tertular virus California dan Korea itu. Sebagian besar masih ingin melihat dunia yang ideal melalui perkantoran-perkantoran yang mapan.

life-long learner. Berbeda dengan para lulusan universitas Korea yang dianggap kira-kira homogen lah, anak-anak muda kita di sini jauh lebih terbuka pada peluang-peluang di luar bidang ilmu dan keahlian mereka.

multi-tasker, sembari mengerjakan pekerjaan kantornya, mereka juga membangun jaringan jualan apa saja yang ditawarkan pasar dan diminta pasar.

Sulit melihat anak-anak muda California dan Korea Selatan berbondong-bondong nongkrong di satu tempat untuk mem-prospek calom member baru MLM seperti di Indonesia. Di desa ini, kebersamaan, kekeluargaan, keterhubungan, sangatlah kuat. Mereka tak sempat bosan. Berpikir tentangnya pun tak sempat.

Gaya hidup komunal

Ada beberapa hal yang saya temukan dari fenomena ini.

Pertama, anak-anak muda kita terbiasa hidup komunal, berkongsi, bersosial. Mereka tak pernah kesepian, apalagi kehabisan ide.

an bus kota. Gaya hidup anak-anak muda seperti ini belum sepenuhnya dikapitalisasi.

aman yang diatur oleh berbagai ekosistem, kolaborasi menjadi faktor penentu keberhasilan kolektif. Bermain sendirian cenderung berakhir buruk.

Kedua, bosan adalah buah dari rutinitas yang dipatok, dipagari sendiri. Bangsa yang gampang bosan biasanya terjebak dalam rutinitas yang jauh dari sifat ketekunan.

Bagaimana mungkin seorang petani bisa bertahan menunggu matangnya padi dari hari ke hari? Bagaimana pula seorang guru tak bosan mengajarkan pelajaran yang sama dari waktu ke waktu seumur hidupnya?

– penduduk desa kecil bernama Indonesia ini memiliki benih ketekunan yang luar biasa.

Saya curiga, mungkinkah anak-anak muda di California dan Korea itu sudah mentok pada satu titik jenuh di mana semangat bertekun tak lagi tersedia di kamus kehidupan mereka?

Atau kah, mereka telah melihat masa depan yang jauh lebih baik yang mata kita masih belum mampu menatapnya?

the new normal. Setiap hari harus ada hal baru, syukur-syukur kejutan, susah ditebak. Anak-anak muda kita yang hidup di korporat ingin melihat, mendengar dan menikmati hal-hal baru setiap hari.

Menurut riset OECD tahun 2018 lalu, Indonesia berada pada urutan ke 3 negara paling buruk dalam keseimbangan antara bekerja dan menikmati kehidupan (14.3%) setelah Turki (23.3%) dan Korea Selatan (22.6%). Semakin besar persentasenya semakin buruk.

Dalam asumsinya, rata-rata pekerja di Indonesia bisa bekerja hingga 60 jam per minggu. Jepang (9.2%) dan China (5.8%) yang dikenal sebagai bangsa gila kerja saja jauh lebih baik kondisinya daripada Indonesia.

Anehnya …banyak eksekutif muda kita yang bertahan di dunia korporat. Seandainya pun mereka mundur, mereka akan mencari kehidupan korporat lainnya.

survived hingga tahun-tahun berikutnya sampai bisnis mereka mapan. Beberapa yang gagal akhirnya mengulangi lagi kurva belajar di kuadran awal, menjadi karyawan korporat.

quit the job, tapi sedikit saja yang benar-benar merealisasikannya.

Di satu sisi saya sedih karena nyali menjadi komoditi yang sangat mahal di Indonesia, namun di sisi lain, elastisitas terhadap tekanan pekerjaan membuat mereka menjadi lebih berhati-hati terhadap perubahan mendadak dan besar.

eki di warung dan toko mereka.

Barangkali, itulah yang membuat ribuan warteg tegak berdiri di tengah serbuan waralaba restoran cepat saji modern, dan mungkin itu pula mengapa penjual-penjual mie ayam masih bisa menyekolahkan anak-anaknya di Jerman dan Australia.

Dan bila ada pembaca yang benar-benar sudah bosan kerja kantoran, barangkali ini saatnya anda mendaftar di sekolah Jang Su-han, School of Quitting Jobs.

“don’t tell your bosses.”

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Sekolah untuk Orang Bosan, Mungkinkah?”, https://money.kompas.com/read/2019/04/09/162757126/sekolah-untuk-orang-bosan-mungkinkah?page=all.

Editor : Heru Margianto

Posted on Leave a comment

E-Sport, Brain Game dan Samudera Peluang

Editor : Heru Margianto

“LIFE is a difficult game. You can win it only by retaining your birthright to be a person.” (A. P. J. Abdul Kalam)

Di basement rumahnya – yang juga jadi kamar tidur sekaligus ‘ruang kerjanya’, pemuda 31 tahun itu berbagi prinsip hidupnya.

“Begitu bangun, aku nyalakan komputerku dan langsung streaming, tanpa memberi tanda, tak ada webcam, tak ada apapun. Aku duduk dan mulai memainkan game Fortnite, lalu aku mulai berbicara sedikit. Itu satu-satunya cara yang kutahu untuk bisa kabur dari lubang hitam mentalku…”

Pemuda itu, Benjamin Lupo, seorang gamer profesional yang dikenal sebagai Dr. Lupo. Lupo mengisahkan bagaimana profesi sebagai gamer telah mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Tak ada lagi stereotype yang buruk terhadap game maupun para gamer-nya. Dengan 7 juta follower-nya, Lupo menampilkan permainan game ciamik yang nyaris absurd dilakukan kebanyakan gamer.

Lupo melakukannya melalui platform Twitch besutan Amazon yang secara khusus melakukan broadcasting permainan game secara live-stream ke seluruh dunia.

Ayah Lupo, seorang profesor psikologi di Creighton University, sangat bangga dengan pilihan profesi anaknya. Di basement rumahnya, Lupo menghabiskan waktu 80 jam per minggu untuk memainkan game Fortnite atau PUBG, dan ditonton jutaan penggemarnya secara live-stream.

Tampak aneh, tapi bukankah ia sudah menjadi selebriti?

Lupo telah menghasilkan 1 juta dolar per tahun sejauh ini, dan itu setara dengan kira-kira 92.000 dolar AS per bulan. 

Bandingkan dengan gaji rata-rata dokter umum di Amerika yang ‘hanya’ 294.000 dolar AS per tahun, atau gaji seorang dokter bedah syaraf di Amerika yang rata-rata gajinya 663.000 dolar AS per tahun.

New animal needs new Zoo

Kisah Lupo sempat membuat saya terperangkap dalam pikiran “ahh, ini lagi, anak muda yang anti-sosial yang hidup dalam dunia khayalan”. Tapi itu semua tiba-tiba berubah saat satu berita dari nun jauh di sana menghantam kepala saya.

Tujuh negara bagian di Amerika telah melegalkan eSport, julukan bagi aktivitas game online, menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Itu termasuk negara bagian Massachusetts di mana sekolah-sekolah dan kampus-kampus terbaik dunia berada: Harvard, MIT, dan Boston University.

Negara bagian lainnya, Georgia dan Texas, juga sudah melegalkan eSport sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah mereka.

Ada kah yang aneh? Massachusetts dan Georgia adalah dua negara bagian yang sangat menjunjung tinggi kualitas pendidikan. Tak ada yang namanya kurikulum abal-abal!

Ketujuh negara bagian itu tak ayal lagi akan menjadikan sebuah liga eSport yang bakal mentereng. Jangan heran, cepat atau lambat liga itu akan menjelma seperti NBA, NFL atau MLS yang sangat disegani di Amerika.

Amerika memang sangat jago mencipta sesuatu yang baru dengan modal otak encer: kreativitas dan intuisi bisnis.

Gayung pun bersambut. University of California Irive dan New York University kini menawarkan beasiswa untuk bidang video games, maka jalur karir untuk bidang eSport akan menyerupai jalur karir olahragawan tradisional di Amerika Serikat: mulai sebagai gamer berprestasi di SMA, lanjut beasiswa di universitas dan berakhir menjadi pemain pro.

Dan benarlah, bila eSport adalah spesies jenis baru, ia membutuhkan kebun binatang yang lebih sesuai untuknya. Kampus dan asosiasi profesi mungkin lingkungan yang paling bisa mewadahi spesies baru ini.

Otak kanan makin menggila!

Kok bisa begitu? Begini analisisnya.

Kasus Lupo dan diterimanya eSport sebagai bagian dari kurikulum formal di sekolah-sekolah di Amerika adalah bukti bahwa disrupsi tak hanya membunuh model bisnis lama, tetapi jauh lebih mencengangkan lagi, ia melahirkan bisnis-bisnis baru yang sangat cuan.

Amazon sendiri sebagai pemilik platform Twitch hanya tinggal menunggu waktu saja sampai industri game menjadi matang sebagai salah satu profesi yang prestisius seperti profesi lawyer, dokter, arsitek ataupun programmer.

Cepat atau lambat, Twitch akan panen rejeki dari produsen-produsen game yang pasang iklan besar-besaran di platform itu. Twitch akan menjadi rujukan para gamer seperti Khan Academy menjadi rujukan para home-schoolers.

Menurut data terbaru, proyeksi nilai bisnis eSport global di tahun 2019 ini menyentuh angka 1 miliar dolar AS dengan jumlah penonton pada akhir tahun diproyeksi mencapai 454 juta orang.

Itu jumlah yang nyaris menyamai jumlah populasi Uni Eropa (508 juta jiwa!). Data ini – meski awalnya tampak sangat over-confident – akan segera menjadi data purba yang terlalu meremehkan.

Anak-anak sekarang mulai mengenal game komputer dalam usia yang sangat muda, belum lulus SD pun kebanyakan sudah mahir memainkannya, sehingga saat SMP maupun SMA mereka sudah mahir berkompetisi dalam liga-liga kecil. Saat uang besar berbicara, tidakkah mereka tertarik untuk menekuni karir sebagai gamer ketimbang mendaftar di universitas?

Belasan tahun lalu Lupo mendapatkan banyak sindirian karena terlalu lama berada di depan konsol video atau desktop-nya hanya untuk bermain game.

Tak terpikirkan bahkan olehnya sendiri bahwa hari ini mata pencahariannya datang dari game, termasuk menandatangani iklan (endorsement) dengan salah satu perusahaan asuransi besar Amerika State Farm.

Ia sudah setara dengan bintang NFL Aaron Rodgers maupun bintang NBA Chris Paul yang sama-sama mendapatkan endorsement dari State Farm.

Bisnis eSport tak lagi peduli pada pepatah ‘mens sana in corpore sano’ (terdapat jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat). Mungkin malah akan ada banyak kasus sakit punggung dan pinggang karena kelamaan duduk memelototi layar monitor, atau kasus sakit mata yang sangat parah pada anak-anak usia muda.

Penghasilan industri penyedia game, industri pendidikan yang menawarkan kurikulum eSport, dan penghasilan para gamer yang sangat aduhai telah menafikan risiko-risiko itu. Dengan penghasilan yang sangat berlimpah, tak ada penyakit yang perlu dikeluhkan lagi.

Industri eSport terbukti telah berhasil mengisi kekosongan yang selama ini belum bisa diberikan secara generous oleh industri lain: bermain, have fun, tak harus terikat jam kerja 8 to 5, dan lebih bagus lagi, …dibayar mahal!

Industri ini memang banyak bermain di otak kanan, orang-orang harus merasa nyaman dahulu, mereka akan bilang, ini gue banget!

What to expect?

Industri eSport hanyalah salah satu dari beberapa pertanda baik bahwa saat ini apapun yang anda lihat dan dengar adalah peluang. Tak ada yang tak mungkin.

Seperti otak kanan yang tak mau dipaksa 3 x 4 harus 12, industri ini membuka mata kita semua bahwa zaman baru telah meletakkan landasan yang sangat kuat bagi lahirnya bisnis-bisnis berbasis kreativitas yang kelak akan mengeksploitasi what we think dan how we feel, bagaimana kita berinteraksi dengan dunia maya serta mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari dunia itu.

Menyusul eSport, tak lama lagi bloger dan vloger (termasuk youtuber) akan menjadi profesi yang sama mulianya dengan psikolog, psikiater, konsultan perkawinan, konsultan keuangan, atau profesi prestisius lainnya.

Hari ini mungkin kita hanya melihat mereka ‘dititipi dan disisipi’ iklan sebagai bagian dari endorsement, kelak, jangan heran bila mereka menjadi perusahaan iklan itu sendiri.

Hampir dua dekade lalu HBO menggoyang produser-produser film Hollywood karena memproduksi sendiri film serinya yang laris manis, Band of Brothers.

Hari ini gantian HBO yang sedikit digoyang karena Netflix dengan model bisnis berbeda (melalui streaming) pun melakukan hal yang sama (dari tahun 2012 memproduksi film sendiri).

Tak ada yang abadi. Hari ini kita menjadi predator, tahun depan mungkin menjadi mangsa.

Hal yang patut kita cermati bila kita ragu akan munculnya industri baru yang mungkin tak jelas akan menjadi seperti apa, tunggu saja sebentar. Bila dunia akademis dan investor besar telah meminangnya menjadi bagian dari keseluruhan ekosistem yang mereka bangun, maka itulah tanda bagi anda untuk boleh berucap: industri ini sudah matang dan siap mengangkasa!

Dan saya manggut-manggut sambil mengingat pepatah lama… “We need money. We need hits. Hits bring money, money bring power, power bring fame, fame change the game.” (Young Thug).

Seperti saya, Benjamin Lupo pun hanya bisa tersenyum, ia bahkan tak menyangka menjadi tenar dan bergelimang uang karena game.

Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “E-Sport, Brain Game dan Samudera Peluang”, https://money.kompas.com/read/2019/05/06/075748326/e-sport-brain-game-dan-samudera-peluang?page=all.

Editor : Heru Margianto

Posted on Leave a comment

Saat AI dan Machine Learning Menantang Lembaga Survei

Editor : Heru Margianto

JEFF Catlin, seorang anggota FORBES Technology Council, sangat gundah dengan begitu dangkalnya orang berpikir soal AI ( Artificial Intelligence).

“AI bukanlah sekedar teknologi atau inovasi yang sederhana – AI adalah keseluruhan hal yang membentuk lanskap sosial dan ekonomi dalam berbagai caranya.”

Saya sependapat dengan Catlin. Berbicara soal AI tak melulu soal kecepatan dan akurasi komputasi, tapi lebih dari itu, bagaimana AI sudah berevolusi menjadi mitra beropini dan penyedia alternatif tindakan.

Catlin mencontohkan, para CEO di banyak perusahaan telah mendorong inovasi di machine learning dan AI untuk membantu bisnis mereka mendapatkan gambaran dari data berbasis teks yang tak terstruktur untuk diterjemahkan menjadi rekomendasi atau bahkan instruksi-instruksi.

Untuk memahaminya, saya membayangkan sebuah situasi di mana satu perusahaan memerlukan survei di 34 ibukota propinsi di Indonesia untuk mencari tahu karakteristik preferensi belanja para penduduk di 34 kota besar itu.

Ada satu opsi yang pasti mudah dilakukan: bayar lembaga survei komersial untuk melakukannya dengan 1.200 hingga 2.000 responden. Hasilnya kira-kira akan mewakili gambaran menyeluruh preferensi seluruh penduduk Indonesia termasuk yang tinggal di kota-kota lainnya.

Kata-kata “kira-kira akan mewakili” menandakan kurangnya keyakinan akan akurasi hasil akhirnya, meskipun itu artinya bisa pula disebut sebagai ‘merefleksikan’ keseluruhan realita, tetap saja itu merupakan asumsi pars pro toto.

Hanya karena seorang Rudy Hartono memenangi rekor juara All England delapan kali, tak lagi bisa dikatakan bahwa ‘orang-orang Indonesia jago main badminton’. No, no, no…..

Sekarang coba bayangkan kemajuan teknologi hari ini: big data, data analytic dan AI yang menjadi otaknya machine learning.

Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi seperti Google, Amazon, Huawei, Apple, Alibaba dan banteng-banteng medsos seperti Facebook, Instagram dan Twitter sudah lama memakai AI untuk memberikan gambaran asli, real-time, akan berbagai hal yang terkait dengan bisnis mereka, termasuk di antaranya dinamika perilaku konsumen, situasi pasar, dan kecenderungan-kecenderungan yang tak kasat mata namun tertangkap oleh otak jenius berbagai platform berbasis Big Data dan AI.

Pertanyaannya, bila platform-platform itu bisa mengolah big data sebesar 2.5 quintillion bite per hari untuk membuat suatu rekomendasi atau summary dalam waktu 10 detik, bisakah mereka melakukannya untuk sebuah survei realtime tak hanya di 34 ibukota propinsi namun seluruh wilayah Indonesia yang berakses internet? Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menjawabnya: BISA!

Saya sudah melihatnya sendiri di Silicon Valley. Dan itu tak serumit yang kita bayangkan. Bagian rumitnya sudah diambil alih oleh AI, kita tinggal memasukkan variabel apa saja yang ingin kita ketahui. Bim Salabim. Benar-benar tak sampai sepuluh detik!

jadi, masih relevankah lembaga-lembaga survei komersial bila fungsi pekerjaan mereka bisa dilakukan dalam hitungan detik, real-time, jauh lebih akurat, oleh sebuah mesin AI yang terpajang dan beroperasi 24/7 di berbagai platform medsos dan ecommerce saat ini

Pertanyaan ini sangatlah kontroversial – bahkan saya sendiri masih ragu, apakah benar mesin AI sudah sedemikian canggihnya hingga mampu melampaui kemampuan manusia ber-survei.

Presisi, timing, and strategi

Survei tetaplah survei, entah siapa yang mengerjakannya, manusia atau mesin AI. Namun mesin AI menjadikan survei tak lagi hanya sekedar memberikan opini atau rekomendasi, karena saat ini bahkan mesin AI sudah mampu memberikan instruksi atau analisa alternatif tanpa memerlukan data entry tambahan dari kita.

Mesin AI sudah bisa belajar sendiri memakai pola-pola yang ada dan membuat pola alternatif lalu mengkalkulasi setiap konsekuensinya, jauh lebih cepat dan tentu saja tanpa ragu. Mesin AI adalah mesin stand-alone!

Sahabat saya, konsultan sekolah vokasi teknologi yang sempat belajar di Inggris bercerita bahwa beberapa tahun lalu saat ia akan memesan tiket untuk menonton sepak bola Liga Primer di sana ia harus mendaftar terlebih dahulu jauh hari untuk mendapatkan posisi tempat duduk. Awalnya ia heran kenapa untuk beli tiket termurah saja masih harus diatur tempat duduknya.

Belakangan baru dia paham bahwa sistem ticketing di Liga Primer, terutama untuk pertandingan-pertandingan besar, mensyaratkan hal itu, karena mesin AI yang dimiliki Liga akan mensortir kecenderungan-kecenderungan perilaku setiap penonton yang mendaftar untuk beli tiket.

Beberapa mantan Hooligan (penonton yang gemar bikin ribut) yang mendaftar otomatis akan langsung dikenali oleh sistem dan ditaruh di spot tertentu di stadion agar mudah diawasi aparat.

Dalam kemampuan ekstremnya, sistem bahkan mampu mengenali juga kecenderungan tim mana yang bakal didukung oleh seorang pendaftar yang akan beli tiket.

Berdasarkan protokol sistem, calon penonton tersebut akan diarahkan ke spot tempat duduk tertentu yang menghindarkan dia bentrok dengan pendukung tim lawan.

Bagi saya, sistem itu bahkan sudah melangkah terlalu jauh. Dalam skala tertentu, sistem itu mengkonfirmasi bahwa data tentang seseorang memang benar-benar sudah sedemikian tersebarnya di cyber-space.

Sistem itu mengambil semua informasi yang tersedia termasuk dari berbagai akun medsos terbuka dan mungkin saja termasuk akun ecommerce. It’s anyone’s guess.

Dalam kesempatan lainnya, sahabat saya itu pernah mengatakan, “tell me who your friends are, and I will tell you who you are”.

Lalu terpikirlah dalam benak saya, barangkali, algoritma seperti itu lah yang menopang salah satu protokol kerja di mesin AI.

Dan, lagi-lagi saya membayangkan sedang berdiri di antrean panjang di depan ticket box di Stadion Old Trafford, sementara beberapa CCTV di sekitaran ticket box bahkan sudah mengetahui siapa saya, dengan siapa saya berteman, klub sepakbola mana yang saya dukung, dan apakah saya memiliki kecenderung untuk membeli merchandise di souvernir store mereka hanya dengan melihat koleksi segala hal yang berbau Manchaster United dari akun-akun medsos saya. Alamaaakk!

Dan saya kembali ingat soal lembaga-lembaga survei yang menjamur di negeri ini. Siapkah mereka bila suatu saat platform e-cash atau epayment berbasis big data dan AI seperti GoPay, Ovo, dan beberapa lainnya, bahkan lebih akurat memprediksi kecenderungan preferensi masyarakat akan isu-isu tertentu, tepat seorang demi seorang. Setidaknya ada tiga hal yang saya amati.

Pertama, soal presisi, atau akurasi. Anda bisa bayangkan, mesin AI yang disokong ratusan sensor dan web-cam di sebuah toko Amazon-Go, toko tanpa pelayan dan tanpa kasir, akan dengan tepat mengetahui berapa jumlah pengunjung toko, barang-barang apa saja yang mereka masukkan ke keranjang belanjaan, berapa yang batal mereka beli dan ditaruh kembali ke rak, bahkan bila barang itu tidak dikembalikan ke raknya semula. Presisi, akurasi seperti itu, jelas mengungguli kemampuan komputasi konvensional tanpa AI.

Dalam sebuah survei, margin of errors menjadi semacam disclaimer yang paling masuk akal, karena responden yang disurvei atau diwawancarai hanya sebagian kecil saja (sampling) dan juga untuk menyatakan bahwa tingkat kesalahan sample pasti ada karena sample terlalu kecil untuk mewakili keseluruhan populasi yang menjadi target survei. Bagaimana dengan kemampuan komputasi AI untuk melakukan survei?

Sudah jelas tingkat akurasi survei oleh mesin AI akan lebih presisi, di samping karena sifatnya bisa realtime, juga karena tak ada apriori maupun pre-judgment terhadap tujuan survei itu sendiri.

Kelemahannya mungkin hanya satu, mesin AI belum bisa berhadap-hadapan muka dengan responden untuk deep interview alias wawancara tatap muka, sementara faktor ini juga layak menjadi pertimbangan saat hasil akhir survei dikonklusikan.

Percayalah, cepat atau lambat, mesin AI untuk survei akan berkembang sehebat Siri, Cortana atau OK Google. Jangan bayangkan dulu Jarvis di film Iron Man.

Yang ke dua, timing, atau penentuan waktu eksekusi. Survei konvensional selalu menunggu waktu dan situasi yang tepat untuk mensurvei target dalam konteks tertentu. Misalnya survei politik dalam rangka pemilu. Mesin AI tak perlu membuat perencanaan untuk survei event seperti itu, karena data akhir langsung bisa ditarik kapan saja, benar-benar realtime!

Yang ke tiga, strategi. Mesin AI tidak perlu di-setting untuk menjalankan metode survei tertentu. Pada dasarnya ia hanya mengambil data yang sudah ada dan bisa diambil dari pusat-pusat big data internet di seluruh penjuru bumi, dan ia akan memberikan ratusan bahkan ribuan informasi mengenai banyak hal, bahkan sebelum terpikir oleh anda bahwa data-data itu ternyata bermanfaat bagi anda atau bisnis anda.

Benar kata-kata Jack Ma,”berfokuslah pada hal-hal yang mesin AI belum bisa lakukan. Jangan pernah berpikir anda akan menang melawan kecepatan mesin.”

Tak dapat dihindari, lembaga survei memang harus melakukan banyak improvisasi dengan pendekatan-pendekatan baru yang humanis, lebih ke emosi, lebih ke afektif, ketimbang adu otot dengan otak komputer yang kecepatan komputasinya 2 petaflop per detik (angka 2 dengan 18 angka nol di belakangnya).

Dan barangkali, operasional lembaga survei harus lebih mirip kurator seni, menjadi ‘the Da Vinci of statistics’, ketimbang mengerjakan hal-hal yang ‘sudah selesai’.

Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Saat AI dan Machine Learning Menantang Lembaga Survei”, https://money.kompas.com/read/2019/05/06/131300326/saat-ai-dan-machine-learning-menantang-lembaga-survei?page=all.

Editor : Heru Margianto

Posted on Leave a comment

“Cool Village: The Day To Remember”

Editor Laksono Hari Wiwoho

“We will be perfect in every aspect of the game. You drop a pass, you run a mile. You miss a blocking assignment, you run a mile. Perfection. Let’s go to work!” — Coach Herman Boone

PERTENGAHAN tahun 1971…

Gerry Bertier tak habis pikir bagaimana timnya, semua kulit putih, harus disatukan dengan tim kulit hitam yang dipimpin Julius Campbell di sekolahnya.

Nyatanya SMA TC Williams di Alexandria, Virginia, tidak terbiasa menggabungkan murid-murid kulit putih dan kulit hitam dalam satu tim football yang sama. Ini benar-benar sebuah keanehan!

Sebagai kapten, Bertier sering bentrok dengan kapten dari tim kulit hitam, Campbell, tak hanya di lapangan, tapi juga di ruang ganti.

Kebencian rasial yang tak jelas siapa yang melahirkannya seolah menjadi roh pengendali bagi Bertier untuk tak pernah melewatkan hari tanpa berkelahi dengan Campbell maupun anggota timnya.

Hal serupa juga dialami oleh pelatih utama dan asistennya. Herman Boone yang berkulit hitam direkrut sebagai pelatih kepala untuk membantu menaikkan level permainan football di SMA TC Williams bersama dengan Bill Yoast, pelatih kepala sebelumnya yang berkulit putih

Boone dan Yoast tak hanya berjuang untuk membereskan isu-isu rasial di tim gabungan tersebut, tapi juga pendekatan mereka yang sangat berbeda dalam melatih.

Dalam latihan-latihan yang berat dan penuh kedisiplinan, tim gabungan tersebut memenangi serangkaian turnamen yang membawa mereka maju ke final di negara bagian Virginia.

Pelan-pelan tensi rasial tersingkirkan, baik di antara para pemain maupun kedua pelatih. Yoast yang selama ini sangat rasis terhadap Boone sampai pada kesadaran bahwa tak ada yang diuntungkan dengan tidak bekerja bersama.

Bagaimanapun juga, bola yang bundar tak akan pernah peduli ia ditendang oleh siapa, yang pasti ia harus masuk ke gawang, tak penting gawang yang mana.

Di final, saat tim gabungan dilanda keletihan fisik dan mental hingga nyaris kalah, Yoast maju menatap para pemainnya lalu berbicara lantang, “All right, now, I don’t want them to gain another yard! You blitz all night! If they cross the line of scrimmage, I’m gonna take every last one of you out!”

Para pemainnya masih tertunduk lesu. Lalu dengan nada lebih menggelegar lagi, Yoast berteriak, “You make sure they remember, forever, the night they played the Titans!”

Tim yang sudah kelelahan menegakkan kepala mereka. Wajah letih menjadi wajah kemurkaan. Dan, mereka sadar bahwa mereka adalah The Titans! Beberapa menit kemudian mereka keluar sebagai juara negara bagian.

Indonesia yang asyik dan keren

Pada tahun 1971 itu, SMA TC Williams benar-benar pernah mengalami tahun-tahun yang penuh emosi.

Kejadian nyata yang direka ulang dalam film produksi Jerry Bruckheimer dan Walt Disney, “Remember The Titans” (2000) telah mengajarkan kepada kita betapa menyakitkannya permusuhan yang tak ada ujung pangkalnya.

Kemenangan tim football mereka jadi jawara di negara bagian Virginia tak hanya mengalahkan tim-tim papan atas yang hanya memiliki masalah-masalah teknik.

Lebih dari itu, inilah keberhasilan mereka meruntuhkan sekat-sekat kebencian yang bertahun-tahun ada dan tak seorang pun ingin membicarakannya.

Bukankah pergumulan tim football SMA TC Williams ini tak jauh berbeda dengan pergumulan penduduk desa kecil yang bernama Indonesia ini?

Bagi saya yang lahir dan besar di sini, berbicara tentang Indonesia itu tak pernah membosankan.

Saat saya meninggalkan desa ini untuk waktu yang cukup lama, perlahan saya menemukan bahwa orang-orang Indonesia sangatlah asyik, keren, dan selalu punya alasan untuk bangga menjadi bagian dari desa kecil mereka.

Meski kisah-kisahnya tak selalu tentang asmara yang indah, atau panen raya yang berlimpah, desa ini tak pernah kehabisan kebersahajaannya.

Saat menonton lawakan Srimulat gaya Jawa Timuran, warga desa dari Sabang hingga Merauke tertawa bersama, pun saat mereka melihat begitu harmonisnya tarian Saman asal Aceh yang ditampilkan puluhan penarinya.

Jadi, narasi apa yang menciptakan keraguan bahwa setiap warga Indonesia, bila solid bekerja bersama, akan menjadi sangat menakutkan bagi negeri-negeri lainnya?

Saat mengunjungi Curtin University di Bentley, di luar kota Perth, Australia, beberapa tahun lalu, saya berjumpa dengan banyak mahasiswa asal Indonesia. Hal yang sama juga saya temui di University of Western Australia (UWA) di pinggiran kota Perth.

Kisah-kisah mereka tak seperti kisah-kisah imigran yang mencoba mengadu nasib dan bertahan hidup di tempat baru.

Kisah-kisah para mahasiswa ini jauh lebih mengesankan karena mereka adalah orang-orang terpilih yang berotak encer untuk menimba ilmu di negeri seberang berbekal berbagai beasiswa. Sebagian dari mereka mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia.

Cerita tak berhenti di situ, anak-anak mereka yang “terpaksa” ikut tinggal dan bersekolah di SD hingga SMA di Australia menorehkan catatan yang akan diingat sejarah di negeri ini.

Mereka juara di berbagai sekolah, mengalahkan anak-anak Australia sendiri di sekolah-sekolah yang memaksa setiap muridnya harus fasih berbahasa Inggris.

Berbagai kabar selanjutnya membuat saya merinding, anak-anak muda kita telah menaklukkan kelas-kelas di berbagai sekolah dan kampus-kampus di seluruh dunia: di Singapura, Malaysia, Jepang, Korea, bahkan di kampus-kampus global tak pernah luput dari torehan anak-anak muda kita.

Bila Anda cermati berapa banyak anak muda kita yang bekerja di Silicon Valley, pusat industri hi-tech Amerika dan Eropa, juga yang berkarier di industri kreatif Hollywood, Anda akan geleng-geleng kepala. Yah, kita memang layak ditakuti!

Apa yang terjadi di sini?

Desa kecil kita ini, Ibu Pertiwi, telah melahirkan banyak penjelajah dunia, penakluk lautan dan pegunungan yang dicatat oleh sejarah.

Tak boleh ada lagi yang berpikir sedikit pun bahwa bangsa kita adalah bangsa yang jago kandang. Sejatinya, kita sudah menancapkan kuku di mana-mana.

Kita harus makin gigih mengeksplorasi peluang-peluang di semua penjuru mata angin. Pelajari bahasa-bahasa dunia, pelajari budaya dan minat mereka.

Bukankah China, India, Timur Tengah, dan negeri-negeri di Afrika melakukan hal yang sama

Saat saya bertanya kepada anak-anak muda yang sedang belajar disrupsi ekonomi global, saya lempar pertanyaan-pertanyaan retorik kepada mereka: siapa yang akan memberi makan warga Tiongkok yang sepertiganya masuk ke kalangan ekonomi menengah?

Siapa yang akan menjual baju ke kelas menengah di Pakistan, Rusia, Afrika Selatan, dan Mesir?

Siapa yang akan membangun hotel-hotel kelas dunia di berbagai negara yang industri wisatanya semakin booming, seperti di Filipina, Kamboja, Vietnam, Kenya, Botswana, Bosnia hingga ke Maladewa?

Tidakkah kita adalah bangsa yang sangat ahli soal itu?

Saya yakin sekali, semua peluang itu hanya bisa terjadi bila kita semua, penduduk desa Indonesia, Ibu Pertiwi ini, mengesampingkan segala perbedaan, bersatu, dan bekerja sama. Cara bekerjanya mungkin berbeda-beda, tapi visi dan tujuannya sama.

Ada yang harus bekerja melalui penerapan teknologi dan sains di industri dan bisnis, ada yang melakukannya dengan pendekatan padat karya yang kreatif.

Ada yang masuk ke pemerintahan untuk mengefisienkan birokrasi serta mengaplikasikan praktik-praktik manajemen pemerintahan yang produktif dan berintegritas, dan masih banyak cara lainnya.

Benarlah nasihat keras Coach Herman Boone. Warga desa kita ini memang harus melalui rezim latihan mental yang penuh kedisiplinan, eksplorasi segala kemungkinan memenangi persaingan meski tampak tak mungkin, kurangi rengekan dan keluhan, dan selalu bekerja bersama dalam tim yang solid serta paham ke mana desa kecil kita ini akan menuju.

Bila hari itu tiba, dan barangkali tak lama lagi, kita dengan kepala tegak bersama-sama akan mengatakannya, “We make sure they remember, forever, the night they played the Titans!”

Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “”Cool Village: The Day To Remember””, https://edukasi.kompas.com/read/2019/05/19/04030011/-cool-village–the-day-to-remember-?page=all.


Editor : Laksono Hari Wiwoho

Posted on Leave a comment

Bangsa yang Bernyali: I Dare You!

Editor : Erlangga Djumena

“You don’t scare us.”, begitu kira-kira pesan yang disampaikan Ren Zhengfei kepada President Donald Trump.

Dalam interviewnya di bulan Februari 2019 lalu dengan reporter BBC, Karishma Vaswani, dengan nada penuh percaya diri Ren Zhengfei memberikan statement-nya, “Amerika tak akan bisa menghancurkan kami, dunia tak dapat mengabaikan kami, karena teknologi kami jauh lebih maju.”

Silakan disimak siapa Ren Zhengfei itu. Ia adalah pendiri perusahaan Huawei, raksasa infrastruktur jaringan telekomunikasi dunia asal Cina. Huawei kebetulan juga memproduksi handset ponsel cerdas dan peralatan telekomunikasi lainnya. Ia bukanlah pemerintah China, juga bukan proxy pemerintah China. Ia benar-benar ‘hanyalah’ seorang warga negara hCina yang kebetulan bisnisnya mendunia.

Bagaimana mungkin seorang warganegara China memberikan pernyataan sekeras dan segeram itu kepada presiden negara adidaya Amerika?

Bandingkan situasi Zhengfei dengan saat CEO Google, Sundar Pichai, dipanggil oleh Kongres Amerika terkait data privacy pengguna Android OS dan Chrome besutan Google. Sundar Pichai harus ekstra hati-hati dalam merespons sesi dengar pendapat dengan para anggota kongres, karena salah merespons sedikit saja, Google bisa dapat masalah besar

Dalam kasus lain, lihatlah wajah tegang Mark Zuckerberg saat dihujani pertanyaan-pertanyaan retorik oleh Senator Richard J. Durbin terkait bocor serta disalahgunakannya data pengguna Facebook di Amerika.

Baik Pichai maupun Zuckerberg tak ada yang terlalu bernyali untuk ‘main-main’ dengan regulator Amerika. Lalu bagaimana menjelaskan statement Ren Zhengfei yang jelas-jelas mengirimkan pesan ke pemerintah Amerika, Kami tidak takut?

Zhengfei ada di dalam posisi yang sebenarnya lemah. Huawei dihadapkan pada 23 tuduhan serius terkait teknologinya, dan dua di antaranya terkait pencurian data rahasia perdagangan Amerika serta bisnisnya dengan Iran yang sedang dalam sanksi embargo Amerika

Karena kasus ini pula, Amerika melalui pengaruhnya kepada pemerintah Kanada meminta aparat kepolisian Kanada menangkap Direktur Keuangan Huawei, Meng Wanzhou, yang kebetulan adalah anak kandung Ren Zhenfei. Jadi, dari mana datangnya nyali sebesar dinosaurus itu hingga Zhengfei bisa berteriak ‘kami tidak takut’?

Teknologi, kekuatan jaringan dan ketergantungan

Huawei memiliki lebih dari 170,000 staf dengan 76,000 di antaranya khusus bekerja di unit R&D (Research & Development). Saat ini Huawei memiliki lebih dari 20 R&D Institute yang tersebar di seluruh dunia.

Dalam satu tahun rata-rata anggaran R&D Huawei mencapai 14 miliar dollar AS (hampir Rp 200 triliun), itu setara dengan dua kali APBD DKI tahun ini!

Saat Zhengfei mengatakan tidak takut kepada ancaman Amerika karena teknologi Huawei lebih maju, dia berbicara dengan data-data yang riil.

Huawei telah berada di hampir 200 negara di dunia, teknologi peralatan telekomunikasi serta consumer goods-nya sudah masuk liga sekelas pemain-pemain besar di Silicon Valley. Tiga perusahaan telco di Inggris sangat tergantung pada teknologi jaringan Huawei, dan banyak negara Eropa lainnya ada dalam situasi yang sama. Canggih dan lebih murah, barangkali itulah kelebihan produk-produk Huawei.

Pertanyaannya adalah, apakah Zhengfei mendapatkan back up dari pemerintah China sehingga ia menjadi sungguh bernyali? Ya dan tidak.

Pemerintah China sendiri sedang terkuras energinya karena perang dagang dengan Amerika Serikat. Setidaknya pundi-pundi sebesar 250 miliar dollar AS terpaksa menguap karena batasan ekspor dan tingginya tarif masuk ke pasar Amerika.

Kasus Huawei terpaksa di-leverage dengan kasus-kasus umum yang mana perusahaan-perusahaan besar dari China terpaksa menderita karena perang dagang ini. Singkat kata, Huawei sendirian berhadapan dengan pemerintah Amerika! So?

Namun begitu, Huawei tak benar-benar sendirian. Benua Afrika, Amerika Latin dan pasar Asia masih terlalu ‘jaim’ untuk tidak berbisnis dengan Huawei. Di samping itu, Huawei tergolong generous soal berbagi R&D dengan negara-negara di mana R&D Institute-nya berada.

Di Leuven, Belgia, misalnya, Huawei termasuk garda depan dalam pengembangan teknologi 5G di mana perusahaan-perusahaan teknologi lainnya masih dalam tahap coba-coba, terutama terkait penerapan 5G di dalam IoT (Internet of Things) serta teknologi Cloud serta AI (Artificial Intelligence-nya). Saat Amerika masih rapat-rapat menyimpan riset di teknologi-teknologi tersebut, Huawei sudah membuatnya menjadi masal.

Mari kita flash back sejenak untuk mengelaborasi kasus Huawei ini. Bulan September 2015 Jack Ma, taipan super tajir pendiri Alibaba Group yang juga asal China menghadiri talkshow dalam acara CNBC ‘Clinton Global Initiatives’ yang mana mantan presiden Amerika Bill Clinton menjadi co-speaker-nya.

Ada satu hal yang penting disampaikan oleh Jack Ma soal ketakutan orang-orang Amerika dan pemerintahnya terhadap China serta laju ekonominya.

“Masyarakat China tak seperti orang-orang Amerika yang royal membelanjakan uang masa depannya untuk belanja hari ini. (Tapi kini) China sedang bertransisi ke arah ekonomi yang didorong konsumsi, dengan demikian apapun produk China masih bisa dikonsumsi secara domestik tanpa terlalu bergantung pada pasar luar negeri,” ucap Ma.

Sebenarnya pernyataan Jack Ma selaras dengan kondisi internal di China sendiri saat ini. China belum benar-benar siap menjadi pasar konsumen untuk produk-produk mereka sendiri. Begini lanjut Jack Ma …

“Kalian orang-orang Amerika terlalu mengkhawatirkan soal China. Setiap kali kalian berpikir China adalah masalah, mendadak ekonomi kami menjadi lebih baik. Tapi setiap kali kalian berharap China bisa membantu meredam gejolak global, (ekonomi) kami malah menjadi berantakan.”

Jack Ma sedang berbicara soal kesaling-tergantungan global. Bill Clinton bisa mencerna dengan baik statement Jack Ma. Sayangnya, empat tahun kemudian, Presiden Donald Trump gagal melihat konsep ketergantungan serta keterhubungan ini.

Bayangkan, ribuan merek dan produk teknologi Amerika diproduksi di China, sementara perusahaan-perusahaan besar China mencari dana segar dengan melantai di bursa Wallstreet, Manhattan Selatan.

Label ‘designed in the US, manufactured in China’ menjadi co-branding yang sangat kuat di seluruh dunia, karena label itu mengisyaratkan kualitas yang tinggi dengan ongkos produksi yang relatif rendah sehingga harganya terjangkau masyarakat konsumen global. China akan selalu tergantung pada brand-portfolio serta kekuatan modal global di tanah Amerika.

Statement “Are You China-Ready?”

Lepas dari polemik Ren Zhengfei melawan pemerintah Amerika, atau kejujuran seorang Jack Ma saat menyatakan betapa bergantungnya China dengan Amerika, ada satu fenomena unik di negeri tirai bambu itu sendiri.

Sebuah organisasi yang merupakan kemitraan antara pemerintah Cina (kementerian pariwisata serta kementrian perdagangan dan industri) dengan korporasi-korporasi swasta China yang bernama ‘China-Ready & Accredited” (CRA) telah mempelopori untuk membuka Chhina, siapa dan seperti apa China dan orang-orangnya, serta bagaimana budaya serta keinginan atau preferensi masyarakat China saat berhadapan dengan masyarakat global.

CRA menjadi seperti pusat pengetahuan serta sertifikasi bagi bisnis-bisnis global yang akan masuk berinvestasi di China, serta bagi bisnis-bisnis global yang akan berhubungan dengan perusahaan dan orang-orang (konsumen) China di negara-negara mereka sendiri.

CRA memberi info dengan tepat, misalnya soal keinginan turis-turis asal China apa saja saat mereka akan pergi ke Amerika. Dengan demikian, para pebisnis di Amerika, misal pengusaha restoran atau hotel di Amerika, akan menyiapkan segala sesuatunya agar menarik untuk dikunjungi oleh turis-turis asal China tersebut.

Pun demikian dengan investor asing yang akan masuk ke China. Mereka akan difasilitasi untuk mengenal lebih dekat bagaimana berinvestasi di China dengan pendekatan preferensi serta budaya orang-orang China.

Dengan insisiatif CRA ini, jadi siapa yang lebih xenophobic? Amerika, atau China?

Bagaimana Indonesia bisa belajar?

Pemerintah kita saat ini sangat bertaji. Tanpa harus berkonfrontasi head-to-head dengan negara-negara besar, pemerintah telah mengirimkan pesan ke seluruh dunia. Pesannya sangat sederhana, “Are You Indonesia-Ready?” Apakah kalian (negara-negara sahabat) siap berhubungan bisnis dengan Indonesia?

Dengan gencarnya pemberantasan illegal fishing di perairan Indonesia, pencegatan barang-barang haram dari pos-pos perbatasan dengan negara tetangga, pembangunan serta modernisasi semua tapal batas terluar Indonesia, serta menjadi tuan rumah untuk event-event besar skala global seperti IMF-World Bank Meeting, Asian Games, KTT APEC dan Non-Blok, Indonesia sudah tak main di liga kecil lagi.

Sadar atau tidak, Indonesia sudah layak menjadi naga baru. Siapa tak tergiur dengan pasar sebesar 260 juta konsumen yang hampir seperempatnya adalah kelas menengah?

Masih ingatkah kita saat Presiden Jokowi marah-marah karena mendengar bahwa China mengklaim Pulau Natuna sebagai bagian dari Laut China Selatan? Beberapa waktu kemudian beliau benar-benar naik kapal perang menuju Pulau Natuna, dan setelah itu lima kapal perang ditambahkan untuk mengamankan perairan di sekitar Natuna.

Apakah lalu Indonesia dan China menjadi bermusuhan? Tidak. Dengan kedewasaan yang sama, keduanya tetap saling menyegani, menghormati satu sama lain. Yang satu menanyakan “are you China-ready?” Yang satunya membalas dengan pertanyaan yang sama, “are you Indonesia-ready?”

Seorang Jokowi memang bukan Ren Zhengfei. Indonesia memang bukanlah Huawei, pun sebaliknya. Tapi kedua pemimpin ini punya nyali yang sama besarnya, dan tahu betul bahwa kemakmuran dunia ini hanya bisa dirajut dengan kolaborasi, bukan persaingan otot. Pikiran dan persepsi ini sangat penting.

Benarlah kata-kata Ren Zhengfei, ‘What is bigger than the world? It’s our mind.”

Nyali dibentuk oleh pikiran-pikiran kita tentang banyak hal. Dana Huawei tergolong kecil dibanding dana perusahaan-perusahaan raksasa di Silicon Valley, tapi Huawei tak pelit berinvestasi untuk R&D di teknologi-teknologi terbaru. Kurva belajarnya sangat tinggi. Pertumbuhannya gila-gilaan.

Dan inilah salah satu kunci negeri kita ini untuk menjadi garda depan ekonomi global: investasi di R&D, investasi di pengembangan SDM, dan investasi di pusat-pusat pendidikan vokasi. Perlu nyali dan keyakinan yang besar untuk itu. Kita pasti bisa.

What is bigger than fear? It’s our own fear.

Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bangsa yang Bernyali: I Dare You!”, https://money.kompas.com/read/2019/06/05/081300726/bangsa-yang-bernyali-i-dare-you?page=all.


Editor : Erlangga Djumena

Posted on Leave a comment

Jangan Suruh Mereka Pulang dari Silicon Valley


Editor : Erlangga Djumena

PICHAI Sundaradjan hanyalah anak kemarin sore di Madurai, Tamil Nadu, India. Setelah lulus dari Indian Institute of Technology di Kharagpur, ia mengadu nasib ke Amerika dan bekerja di Applied Materials, lalu lanjut sebagai konsultan di McKinsey & Co.

Tak puas sukses sekedar berkarir di Amerika, ia menambah ilmunya dengan belajar di dua kampus prestisius di Amerika untuk meraih dua gelar Masternya: di Stanford untuk belajar Material Sciences & Engineering, lalu di Wharton Business School untuk MBA-nya.

Nasib baik tak berhenti di situ. Tahun 2004 ia bergabung dengan Google dan sejak itu bertanggungjawab atas pengembangan berbagai layanan Google yang kita nikmati setiap hari saat ini: Google Chrome, Gmail, Google Maps, Google Drive, termasuk pengembangan terus menerus Android OS.

Tanggal 10 Agustus 2015 dia diangkat menjadi CEO Google LLC oleh duo pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Hari ini, Sundar Pichai – dengan nama itu ia dikenal luas – menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh tak hanya di Silicon Valley, tetapi juga di planet Bumi.

Sundar Pichai tak sendirian mengalami nasib baik seperti ini. Kompatriotnya asal India kelahiran Hyderabad, Satya Nadella bahkan menjadi CEO Microsoft setahun sebelumnya. Ini melengkapi daftar India perantauan yang seakan menancapkan bendera-bendera mereka di puncak Everest korporasi-korporasi besar dunia.

Sebut saja Indira Nooyi kelahiran Madras yang jadi CEO Pepsi Co, Ajaypal Singh Banga kelahiran Pune yang menjadi CEO Mastercard, atau Shantanu Narayen yang menjadi CEO Adobe, Rajeev Suri kelahiran New Delhi yang menjadi CEO Nokia, dan juga Sanjay Kumar Jha yang menjadi CEO Motorola Mobility setelah sebelumnya menjabat sebagai COO Qualcom.

Oo, jangan salah. Saya tak membahas hal yang sangat spesifik tentang India dan orang-orang hebatnya. Memang menurut penelitian di Universitas Southern New Hampshire, para manajer India di perantauan, artinya tak hanya di Silicon Valley saja, rata-rata sukses berkarir di korporasi karena ‘paradoxial blend of genuine personal humility and intense professional will’.

Tunggu dulu, mari kita cerna karakteristik pertama: genuine personal humility. Bukankah rata-rata (tanpa menggeneralisasi) orang Asia Selatan dan Tenggara memiliki karakteristik itu?

Sekarang mari kita cerna di mana letak paradoks-nya: intense professional will. Nah, barangkali inilah kekuatan kultur orang-orang India perantauan. Mereka sangat kompetitif dan agresif menjadi yang terbaik di kelasnya, di angkatannya, di perusahaannya. Sampai di sini saya puas memahaminya.

Apakah mereka harus pulang kampung?

Ya dan tidak. Mari kita lihat petualangan kehidupan si anak miskin asal Ukraina, Jan Koum. Bersama Brian Acton ia mengembangkan instant messaging terpopuler saat ini, Whatsapp (WA), dan saat Facebook mengakuisisi WA dengan harga fantastis senilai 19 miliar dollar AS, apakah Ukraina lalu memanggilnya pulang sebagai borjuis baru? Tidak.

Eduardo Saverin, co-founder Facebook, kekayaannya sudah lebih dari 9 miliar dollar AS. Apakah ia harus balik ke kampung halamannya di Sao Paulo, Brazil? Tidak. Ia bahkan menetap di Singapura dan menikahi gadis Indonesia di sana.

Petenis nomor satu dunia asal Serbia, Novak Djokovic, dengan penghasilannya yang lebih dari 130 juta dollar AS selepas memenangkan berbagai turnamen dunia, apakah ia pulang ke Belgrade di Serbia? Tidak. Ia bahkan menetap di Monte Carlo, Monaco, dan dari sana ia mengharumkan nama Serbia di pertandingan-pertandingan besar dunia.

Mereka semua adalah outliers dari desanya masing-masing, melawan berbagai ketidak-mungkinan di negeri seberang, di perantauan. Habitat mereka adalah desa yang lebih besar, lebih luas, dunia global. Mereka sudah menjadi global citizen. Memangnya, siapa yang mengharuskan mereka pulang kampung?

Saya kembali ke Indonesia tahun 2003 bukan karena latah spirit pulang kampung. Ayah saya sakit dan kemudian wafat.

Lalu sejak itu saya sering mendengar semacam ajakan untuk orang-orang Indonesia yang sudah berhasil di perantauan pulang kampung membangun Ibu Pertiwi. Mottonya: Indonesia membutuhkan kalian.

.

(Oh, tentu saja Indonesia selalu membutuhkan kalian, tapi tidakkah dunia yang lebih besar membutuhkan otak-otak encer Indonesia untuk membangun dunia yang lebih besar agar lebih baik? Bukankah otak Indonesia membutuhkan banyak ‘kantor cabang’ di seluruh dunia?)

Mereka tak harus pulang kampung. Lebih baik mereka berjuang dengan lebih keras hingga mencapai level prestisius seperti pencapaian Sundar Pichai, Satya Nadela, Jan Koum, Novak Djokovic atau Sergey Brin. Mereka akan menjadi perpanjangan tangan Indonesia di delapan penjuru mata angin. Mereka akan menjadi brand-ambassador atas suatu bangsa yang keren dan menawan bernama bangsa Indonesia. (No? Note sure yet?).

Dari India, belajar ke China

Semangat kembali ke kampung dan membangun kampung halaman tentulah suatu hal yang sangat mulia. Apalagi bila kampung halaman memerlukan inspirasi hidup yang menjadi contoh ‘ini lho si anu yang sudah sukses di sana’.

Bila ada perantau-perantau yang memilih pulang kampung karena alasan-alasan beragam dan tentu pribadi, alam akan mengizinkannya terjadi sedemikian rupa.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berencana pulang kampung dan menetap di perantauan? Kita hanya bisa meyakini mereka memiliki alasan luhur dan mulia untuk itu. Jangan paksa mereka pulang.

Dua puluh atau tiga puluh tahun lalu saya merasakan sendiri bagaimana pulang kampung adalah jawaban atas kerinduan akan orang-orang yang selama bertahun-tahun kita tinggalkan dan berdoa agar kehidupan kita di perantauan berhasil serta menjadi berkat bagi mereka.

Pulang kampung adalah cara terbaik membalas utang budi kita. Tak semua orang memiliki peruntungan yang sama. Beberapa pulang kampung dan bingung mau mengerjakan apa karena keahlian baru mereka dari negeri seberang belum begitu bisa dimanfaatkan di kampung halaman mereka.

Saya membayangkan seorang Sehat Sutardja (bersama saudaranya, Pantas Sutarja) yang sukses membangun pabrik cip/semikonduktor di California, Marvell Technology Group.

What if….nah di sinilah saya kepo, apa yang akan terjadi bila tahun-tahun itu mereka berdua langsung pulang ke Indonesia dan membangun pabrik semikonduktor di Jakarta atau Surabaya misalnya.

Tak ada yang tahu persis kemana atau seperti apa nasib akan membawa mereka berpetualang.

Tetapi yang saya sudah pasti tahu, industri semikonduktor belum siap dibangun di Indonesia pada waktu itu, bukan karena soal teknologinya, tetapi karena lingkungannya belum mendukung: pasar dalam negeri belum siap menyerap output-nya, perlu skala ekonomi yang logis untuk itu

SDM-nya pun belum banyak yang mengerti teknologi dan proses fabrikasi semikonduktor.

Dana – darimana dapat dana untuk memulai bangun pabrik bila perbankan belum bisa menemukan logika bisnis serta kontinyuitas usaha pabrik semikonduktor dalam proposal pengajuan kreditnya waktu itu?

Seiring waktu, industri hi-tech di Indonesia bergerak sangat cepat, banyak investor asing masuk Batam, Semarang, Jabodetabek, Bali, dan barangkali bila saat ini akan banyak bangun pabrik barang-barang berteknologi tinggi pun, kita tak harus memanggil pulang hot-brains Indonesia yang sedang berkarya di Silicon Valley, Seattle, Guangzhou, Shenchen atau bahkan di pusat-pusat teknologi dunia.

Kampus-kampus dalam negeri saat ini sudah siap mensuplai hot-brains untuk pabrik-pabrik baru itu. Jadi, mengapa harus panggil para perantau teknologi itu pulang kempung?

China dan India tak memanggil pulang jenius-jenius mereka dari Silicon Valley atau pusat-pusat bisnis dan teknologi dunia. Justru dengan cara itu, mereka telah menghadirkan China dan India ke Silicon Valley, ke Wall Street, Hollywood, London, Frankfurt, Chicago, you name it, you have it…!

Bayangkan suatu saat di masa depan kita akan melihat kehadiran Indonesia yang sangat kuat di tempat-tempat itu, dan brand-portfolio terkuatnya bukan ekspor produk-produk teknologinya, tetapi SDM-nya. Biarkan mereka menjadi perpanjangan tangan masyarakat bisnis Indonesia untuk masuk ke kancah global.

Sekali lagi, jangan suruh mereka pulang kalau kita tidak siap menerima ambisi dan visi mereka

Tahukah para pembaca yang budiman? Sebelum Sundar Pichai pada akhirnya diangkat menjadi CEO Google di tahun 2015 untuk menggantikan Larry Page, setahun sebelumnya Microsoft meminangnya untuk posisi yang sama.

Bayangkan, bila nama India dalam diri seorang Sundar Pichai dipinang dua raksasa teknologi, mengapa tanah India harus memanggilnya pulang. Bukankah lebih baik Sundar Pichai tetap berada di Silicon Valley dan menjadi jembatan bagi otak-otak encer serta perusahaan-perusahaan startup India masuk ke pasar global?

Hanya semesta yang tahu. Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Jangan Suruh Mereka Pulang dari Silicon Valley”, https://money.kompas.com/read/2019/06/13/073100426/jangan-suruh-mereka-pulang-dari-silicon-valley?page=all.

Editor : Erlangga Djumena

Posted on Leave a comment

Cool Village: Desa Unicorn Melawan Xenophobia

Editor Heru Margianto

LIGA primer di persepakbolaan Inggris yang dikenal juga dengan istilah English Premier League (EPL) adalah liga paling aduhai, paling jet set, berhambur uang dan bertabur bintang. Inilah liga kebanggaan Inggris Raya, terbesar, tersibuk dan paling cuan di dunia!

Tunggu dulu….apakah liga primer ini miliknya bangsa dan orang-orang Inggris? Hmm, …ya dan tidak. Mari kita periksa…lebih tepatnya, mari kita audit!

Klub sepakbola Manchester City adalah juara bertahan liga primer, dimiliki pengusaha Abu Dhabi dan dipimpin manajer asal Spanyol. Tetangganya, Manchaster United dimiliki pengusaha Amerika dan dilatih orang Norwegia.

Mari kita lihat dua klub besar di London. Arsenal dimiliki pengusaha dari Dubai dan dilatih oleh orang Spanyol, sementara Chelsea dimiliki pengusaha minyak asal Russia dan dilatih orang Italia.

Klub Liverpool dimiliki pengusaha Amerika dengan manajer asal Jerman.

Oh jangan lupa Totenham Hotspur dan Leicester City yang menjadi kuda hitam. Hotspur memang dimiliki pengusaha Britania, namun manajernya asal Argentina, sementara Leicester meski dilatih manajer Inggris tetapi klub itu dimiliki pengusaha Thailand.

Apakah dana global melunturkan nasionalisme?

EPL memang liga paling sukses di dunia. Diisi hanya oleh 20 klub terbaik di Inggris, EPL disiarkan secara live di lebih dari 200 negara, tayang di 650,000,000-an rumah dengan jumlah pemirsa lebih dari 4,7 miliar. Rata-rata keuntungan EPL dalam setahun di angka 2,2 miliar Euro. Itu setara 35,3 Triliun!

Bicara soal uang, mari kita cermati hal ini. PUMA, perusahaan sepatu olahraga asal Jerman mensponsori Manchaster City sebesar 50 juta Poundsterling dan mensponsori Manchaster United sebesar 75 juta Poundsterling.

ADIDAS, yang juga asal Jerman, mensponsori Arsenal sebesar 60 juta Poundsterling. Liverpool, bila semuanya lancar, akan memiliki sponsor baru, NIKE asal Amerika yang digadang-gadang akan menggelontorkan dana sponsor lebih dari 75 juta Poundsterling.

Sekali lagi, apakah orang-orang Inggris kehilangan kebanggaannya akan klub-klub kesayangan mereka di liga terbesar di dunia tersebut?

Saya rasa tidak. Sebaliknya, bila harus ditanyakan, apakah orang Inggris bangga dengan Liga Primer mereka? Tentu saja!

Apakah mereka sungguh peduli bahwa dari 20 team yang bermain di Liga Primer tak semuanya dimiliki oleh orang Inggris? Rasa-rasanya tak ada yang terlalu peduli.

Dari 498 pemain sepakbola profesional di EPL, 334 pemain di antaranya bahkan bukan orang Inggris. Itu setara 67%-nya. Apakah Liga Inggris tak lagi menjadi kebanggaan Inggris?

Certainly no, no, no!

Barangkali EPL ini adalah representasi sekaligus refleksi dari proses globalisasi sebuah ‘desa kecil’ yang bernama Inggris Raya.

Rakyat mereka – lepas dari permasalahan soal Brexit – justru senang dan bangga, bahwa EPL telah menghadirkan seluruh dunia, ya penontonnya, yang uangnya, ya industri-industri pendukungnya, masuk ke Inggris.

EPL telah menjadi salah satu signature Inggris yang menjadikan Inggris negara dan bangsa yang besar.

Merek-merek lokal diserbu pendana global. So?

Lalu saya jadi ingat diskursus mengenai empat unicorn (perusahaan rintisan dengan valuasi 1 miliar dolar atau lebih) di Indonesia.

Salah satu dari ke empatnya bahkan siap memasuki status decacorn, dengan valuasi 10 miliar dolar atau lebih.

Saya sangat bangga dan kagum dengan anak-anak muda yang berhasil megikuti gelombang sharing economy dan ecommerce di desa kecil Indonesia ini. Mereka telah membawa nama Indonesia ke panggung teknologi dunia yang selama ini hanya diisi negara-negara maju.

Dalam segala keterbatasannya, mereka berhasil menjadikan perusahaan-perusahaan mereka semenarik EPL di Britania Raya, sehingga perusahaan-perusahaan besar dunia sangat ingin menjadi bagian daripada keempatnya itu?

Dan, mereka berhasil.

Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi serta keuangan global masuk menjadi investor mereka. Lalu sebagian dari kita mulai takut: unicorn kita tak lagi dimiliki Indonesia.

Hmm ….ini pandangan saya.

Pertama, tak ada satu pun yang bisa melawan perubahan, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Kita hanya bisa mensiasatinya dengan bijak namun cerdas.

Kita patut bersyukur bahwa keempat unicorn di desa kecil kita ini benar-benar hasil jerih payah anak bangsa, bukan impor. Dibangun di sini, besar di sini, menjadi berkat bagi puluhan juta orang, … di sini.

Bahwa banyak pendana global yang berminat berinvestasi di keempatnya, patut juga kita syukuri.

Dunia melihat anak-anak desa kita berinvestasi pada diri mereka sendiri dengan peluh dan berdarah-darah dompetnya, wajar bila para investor global ikut meyakini bahwa berinvestasi di anak-anak muda pekerja keras ini akan memberikan benefit terbaik buat mereka dan dunia.

Pendana global tak hanya melihat peluang masa depan, tapi juga bagaimana para pendiri start-up ini secara positif bersikap terhadap segala permasalahan dan tantangan bisnis mereka.

Yang kedua, cara melihat bisnis di dalam negeri tak bisa lagi hanya melihat dalam konteks silo, eksklusif, imune dari dunia luar.

Bisnis, dalam konteks Industry 4.0 lebih melihat pada peran keterhubungan, kesaling-tergantungan, reciprocal benefit. Tak lagi melulu soal resources, tetapi lebih pada ekosistem bisnis global, makro dan mikro.

Silakan bayangkan, berapa banyak pihak dalam negeri yang mau sekaligus mampu mengucurkan dana miliaran dolar bagi ke empat unicorn ini?

Angka yang besar dengan resiko yang belum begitu kelihatan, bukankah itu yang menghambat para pendana lokal untuk secara masif menyerbu industri startup kita?

Terima saja kenyataan ini, kita belum memiliki nyali yang cukup untuk membuang umpan besar demi menangkap ikan raksasa.

Yang ketiga, ‘brand portfolio’ yang bakal melekat erat pada desa kecil bernama Indonesia ini.

Tahun 1999 satu produsen kecap dan saus nasional diakuisisi mayoritas sahamnya oleh perusahaan raksasa asal Amerika HJ Heinz senilai 70 juta dolar.

Di tahun 2003 HJ Heinz kemudian diakuisisi mayoritas sahamnya oleh miliarder Warren Buffet senilai 28 miliar dolar.

Bayangkan, sebuah produk lokal yang lahir di desa kita dipinang sebuah perusahaan global yang kemudian diakuisisi oleh seorang investor jenius seperti Warren Buffet.

Rumor mengatakan, “apapun yang dibeli oleh Warren Buffet pasti bagus, dan akan makin bagus.” Kisah selanjutnya menjadi sejarah pabrik saus dan kecap itu.

PR kita semua: membangun kepercayaan diri dan nyali

Bisnis konvensional belum bisa melihat konsep keterhubungan dalam konteks sharing economy and ecosystem ini secara jernih.

Mereka lebih takut kehilangan umpan ketimbang kehilangan kesempatan. Mereka takut kepada dunia luar yang mungkin di sudut penglihatan mereka, seperti dunia yang akan menghancurkan desa mereka.

Mereka belum siap melihat efek berantai dari masuknya dana global ke unicorn-unicorn di desa kita ini: ratusan ribu UMKM yang bangkit dan terkoneksi dengan pasar global, menjamurnya industri kreatif, makin cerdasnya anak-anak muda melihat peluang, dan yang sangat penting, transformasi sistem pendidikan dasar dan menengah kita yang tak boleh lagi menafikan trend-trend global di mana anak-anak kita bisa belajar melalui ‘sumber-sumber pendidikan global’ dari kamar tidur mereka.

Mirip kisah di film Apocalypto. Kepala suku Maya, Flint Sky, berbicara kepada Jaguar Paw, anaknya yang beranjak dewasa, “Aku tidak membesarkanmu untuk tunduk pada rasa takut nak. Lawan dengan hatimu. Jangan pernah bahwa ketakutan itu ke desa kita!”

Saya kira para leluhur di desa kita, Indonesia, pun akan berbicara hal yang sama kepada kita. Mereka tak ingin kita membiarkan rasa takut masuk ke desa kita, alih-alih mengundangnya masuk. Apocalypto!

Saya tetap bangga dengan prestasi unicorn-unicorn di desa kita ini. Saya yakin, keempatnya akan menarik bisnis-bisnis rintisan yang lain untuk melakukan hal yang sama: meminang dana global, membawa panggung teknologi global dunia ke desa kita ini, dan tentu saja mengharumkan nama Indonesia.

Seperti prinsip di Liga Primer Inggris, tak akan ada yang kehilangan kebanggaan nasional serta nasionalisme hanya karena orang-orang lain masuk ke desa kita, memuji penduduk desa kita yang luar biasa, dan ikut menari bersama-sama mengitari api unggun keberhasilan desa ini menjadi panggung dunia.

Benar kata Diego Simeone, manajer klub Atletico Madrid, “En la vida, hay que creer”. In life, you have to believe.

I believe. Do you?

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Cool Village: Desa Unicorn Melawan Xenophobia”, https://money.kompas.com/read/2019/03/08/075231726/cool-village-desa-unicorn-melawan-xenophobia?page=all.

Editor : Heru Margianto