Tips Meningkatkan Produktivitas di Kantor

Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak perusahaan yang kehilangan separuh dari total jumlah karyawannya karena perekonomian serta bisnis sedang tidak bagus. Produktifitas menjadi terganggu, dan sisa-sisa energi untuk menyelamatkan bisnis menjadi tertekan.

Hal di atas seharusnya tidak perlu terjadi bila para top management memahami matematika produktifitas dengan rumus yang sangat populer namun hanya sedikit yang mengimplementasikannya.

Pertama, rumus 1 + 1 lebih besar daripada 2.

Kedua, rumus 100% dibagi 2 lebih besar daripada 50%.

Perusahaan dengan jumlah SDM yang turun drastis karena pemangkasan staf dan efisiensi operasional akan dituntut untuk mengimplementasikan rumus ke dua: 100% dibagi 2 lebih besar daripada 50%. Apakah maksudnya rumus atau prinsip dari rumus ini?

Secara sederhana bisa dipaparkan sbb: bila sebuah perusahaan dengan 10 staff terpaksa memangkas (mem-PHK) lima di antaranya, tentu seteleh menyeleksi mana yang dipertahankan dan mana yang di-PHK, maka sisa lima staf tersebut tidak serta merta hanya membawa energi lima orang saja tapi harus dilatih untuk mampu mengerjakan 65% sd 75% dari pekerjaan yang ada. Artinya setiap karyawan tersisa akan digenjot produktivitasnya dengan strategi yang tepat, dan tentu diimbangi dengan insentif yang fair.

Cara paling umum untuk meningkatkan produktifitas adalah melalui pelatihan teknis serta pembekalan motivasi dan etos kerja. Dalam situasi ini umumnya masing-masing karyawan tersisa akan secara sadar menemukan bahwa mereka sebenarnya belum optimal memakai kemampuan serta kompetensi mereka. Pelatihan teknis yang dimaksud adalah bagaimana mempercepat proses kerja dengan tetap mempertahankan kualitas outputnya, serta melihat peluang efisisnesi di tahap-tahap proses bisnis.

Terkait dengan pelatihan etos kerja untuk memotivasi karyawan tersisa, beberapa pelatihan yang tersedia di marketplace seperti ‘More Than Champion’, ‘Productivity Challenge’ serta ‘Seven Habits’ layak untuk dapat dipertimbangkan.

Hal lain yang perlu didengungkan kepada setiap karyawan adalah soal dimensi waktu. Bila semua karyawan menjadi time-aware, alias sadar akan waktu, produktivitas dan efisiensi adalah soal yang sangat ringan untuk dikejar. Banyak karyawan yang tak berkembang dalam karirnya karena merasa waktu yang akan menentukan masa depannya dan semuanya akan baik-baik saja dengan sendirinya. Tentu ini pemikiran salah. Semua hal yang dilakukan manusia, apakah yang sifatnya profesional, sosial dan bahkan personal, selalu melibatkan dimensi waktu dan timeline. Semuanya ada deadline-nya, ada progressnya. Hanya orang yang memiliki kesadaran akan waktu lebih mudah mencapai target dan cita-citanya.

By Ac Mahendra K Datu

This Post Has One Comment

  1. Adhy

    good

Comments are closed.