Futurism #7: Berakhirnya Era “Unbankable Society”

Editor Amir Sodikin

NGOBROL dengan orang yang tahu betul bisnis perbankan dari A sampai Z sungguh menyenangkan. Saya belajar bagaimana orang-orang seperti itu melihat angka-angka, tren, probabilitas, dan risiko-risiko perbankan dengan perspektif berbeda.

Namanya Emmanuel. Emmanuel adalah seorang bankir senior di Singapura, adalah pendiri dan CEO The Asian Banker, sebuah lembaga think-tank perbankan Asia dengan berbagai produk layanannya, termasuk jurnal, laporan riset komersial, country report, serta advisory bagi perbankan di kawasan Asia dan Pacific.

Saya mengenalnya sejak tahun 1998 saat masih tinggal di Singapura. Dalam satu kesempatan saya diminta membantunya membuat sebuah country report mengenai perbankan Indonesia pascakrisis (catatan: terbit Desember 1999 dengan judul Indonesian Banking – Reconstructing The Road to Recovery , TABI Singapore).

Yang saya pelajari dari pengetahuan Emmanuel soal dinamika institusi keuangan – dalam hal ini industri perbankan – ia sangatlah fasih. Ia berbicara seolah ia sendirilah pemilik seluruh bank yang ada di Asia Pacific. Sangat paham, lihai menganalisis, dan menunjuk dengan tepat bagian mana saja yang ia rasa perlu diperbaiki dari industri perbankan.

Di tahun 2007, lembaga yang ia dirikan dan pimpin mulai menyelenggarakan banking summit dengan brand The Asian Banker Summit (TABS). Event ini adalah ‘embahnya’ konferensi-konferensi perbankan yang membahas banyak isu dan tren di Asia.

Event TABS ini berjalan rutin setiap tahun dan berkembang menjadi event yang sangat elite dengan pembicara-pembicara industri perbankan global. Lucunya, setelah berjalan sepuluh tahun, pada tahun 2017 ia menggantinya dengan nama “The Future of Finance Summit” dan brand itu berlaku hingga saat ini.

The Future of Banking atau Finance?

Awal tahun 2017 saya bertemu lagi dengannya di kantor Asian Banker di Keppel Tower II. Dia sendiri berbicara soal keraguannya mempertahankan nama The Asian Banker Summit karena sejatinya – setidaknya menurut dia – bank atau bukan tak lagi menjadi masalah karena pelaku transaksi keuangan global non-bank juga sudah sedemikian masifnya beroperasi saat itu.

Benar juga kata dia. Dalam konteks saat ini, bukankah uang dalam sifatnya sendiri adalah digital? Bila demikian, seharusnya siapapun bisa mentransaksikannya dengan leluasa, dari mana saja, kapan saja, dengan cara bagaimana, istilahnya 24/7, dan tentu saja tak harus melalui lembaga perbankan.

Saya yakin betul, ada keraguan dalam dirinya untuk mempertahankan kata ‘bank’ atau ‘banking’, karena dalam pertemuan para praktisi keuangan global yang ia adakan di bulan Juni 2017 itu, pasar menginginkan dibicarakannya masa depan keuangan tak hanya soal bank tapi juga mencakup institusi keuangan non bank dengan model bisnis yang sama sekali berbeda.

Bagaimana Awam Akan Melihat FinTech?

Secara awam sangat gampang dilihat bagaimana intitusi keuangan non-bank berbasis teknologi yang bernama PPL (peer-to-peer lending) bermunculan seperti jamur di musim hujan.

Ada sebagian besar dari masyarakat yang tidak serta merta mendapatkan akses ke transaksi keuangan, khususnya pendanaan, dari industri perbankan karena mereka tidak bankable – setidaknya begitu menurut standard yang dipakai oleh perbankan.

Soal bankable ini pun definisinya lemah, karena bukannya mereka tidak memenuhi semua syarat untuk mengajukan modal, tapi terkadang hanya satu dua hal trivial saja yang menjadikan mereka unbankable, misal karena tidak ada penghasilan tetap, atau tidak memiliki alamat kantor (yang memberikan penghasilan tetap) yang lebih pasti.

Sebagian pengusaha UKM yang dirintis keluarga-keluarga hingga beberapa generasi dan telah melalui pahit-manisnya bisnis tentu tak memiliki apa yang disebut sebagai penghasilan rutin. Apakah mereka miskin dan tak mampu membayar cicilan? Tentu tidak begitu cara menilainya.

Sebagian besar dari para pengusaha itu bahkan lebih cerdas dalam mengelola keuangan termasuk bagaimana memilah dana untuk membayar cicilan, memutar uang untuk pengembangan bisnis, atau untuk berinvestasi di bisnis-bisnis baru.

Mereka hanya menginginkan leverage, opsi pendanaan kombinasi dengan dananya sendiri yang membuat keputusan-keputusan korporat mereka lebih solid, dan mereka menjadi lebih percaya diri.

Kombinasi dari sebagian dana mereka serta tambahan modal eksternal tentu akan menjadikan mereka lebih leluasa membuat berbagai strategi pengembangan usaha.

Dengan demikian FinTech menjadi pilihan paling masuk akal, selain karena ‘birokrasi’-nya lebih sederhana, prosesnya lebih cepat, dan menggunakan teknologi untuk mem-profiling calon nasabah, sehingga risiko default relatif bisa terprediksi jauh hari.

Sistem di atas belumlah sempurna. Ditambah dengan regulasi yang belum benar-benar solid serta masih lemahnya tingkat keamanan optimal baik dari sisi pengusaha FinTech maupun nasabahnya, FinTech di negeri ini masih seperti bisnis coba-coba yang secara alamiah akan diseleksi oleh pasar dan otoritas keuangan.

Ke depan, jumlah FinTech yang akan beroperasi jelas akan mengerucut menjadi beberapa saja, namun yang terbaik.

Ekosistem, Bukan Resources

Teknologi yang dikemas dalam berbagai aplikasi di gawai dan peralatan kerja dalam spirit Industry 4.0 telah melipat segala hal yang rumit, besar, sangat berisiko, membebani, menjadi sesuatu yang sederhana, menyenangkan, tiak membebani, dan yang sangat penting dalam hal ini adalah interkoneksi. Suatu situasi keterhubungan.

Sumber daya tak lagi menjadi primadona. Ekosistem yang saling melengkapi, mewadahi, dan compatible menjadi kunci dari semua proses di dalam konteks Industry 4.0. Begitu juga dengan FinTech.

Sebagian besar dari kita sangat paham bahwa mendigitalkan sebuah proses konvensional tak serta merta mengubah model bisnis suatu usaha. Ibarat kata, mendigitalkan suatu proses mirip dengan mengganti mesin ketik mekanik yang berisik dengan mesin ketik elektrik. Tetap saja itu sebuah mesin ketik.

Nah beda cerita bila transformasi yang dilakukan adalah mengganti mesin ketik mekanik dengan sebuah laptop, atau smartphone dengan fungsi sangat lengkap, maka proses tersebut sudah mengubah – dalam konteks FinTech – ‘model bisnis’ yang sama sekali baru: fungsinya, cara kerjanya, bagaimana mesin tersebut berinteraksi dengan manusia sebagai operatornya, dan bagaimana mesin itu berinteraksi dengan mesin lainnya. New animal!

Pentingnya faktor ekosistem dalam FinTech diuji bagaimana sebuah perusahaan fintech terkoneksi dengan berbagai bisnis – termasuk yang retail sekalipun – dan bagaimana proses monetisasi menjadi bersifat masal dan terus menerus.


Tak akan pernah selesai membahas FinTech hanya dengan menontonnya. Kita akan lebih mampu menyelaminya saat kita sendiri menjadi bagian di dalamnya, menjadi bagian dari sebuah ekosistem beyond conventionality – atau seperti memakai metafore mesin ketik tadi, menjadi begian dari sebuah evolusi beyond mechanic – beyond analog.

Apapun diskursus soal fintech, benarlah apa kata Jim Marous, seorang Publisher di Digital Banking Report. Katanya, “Financial Institutions must be able to deliver and easy to navigate, a seamless digital platform that goes beyond a miniaturized online banking platform.” (AC Mahendra K Datu)


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Futurism #7: Berakhirnya Era “Unbankable Society””, https://ekonomi.kompas.com/read/2019/02/27/195644326/futurism-7-berakhirnya-era-unbankable-society?page=all.

Editor : Amir Sodikin