fbpx

Futurism # 8: Lifestyle – Karena Tak Ada Yang Ingin Disalahpahami.

Editor Heru Margianto

SEORANG pria tua yang tampil modis dengan kacamata hitam khasnya mengatakan hal ini dengan penuh semangat saat ia diwawancarai,

“My job is not to do what she did, but what she would have done.”

“She” yang dia maksud adalah Gabrielle “Coco” Chanel, pendiri rumah mode CHANEL. Pria tua ini lanjut bicara, “…the good thing about Chanel is, it is an idea you can adapt to many things.”

Pria ini baru saja berangkat menuju nirwana. Dialah Karl Lagerfeld.

Karl Lagerfeld telah pergi, dan mungkin hanya kalangan tertentu yang mengenal namanya. Tapi, mungkin jauh lebih banyak yang mengenal karya-karya desainnya di rumah mode Chanel.

Dialah Creative Director di rumah mode itu untuk waktu yang sangat lama. Lagerfeld dan Chanel seperti dwi-tunggal yang memastikan karya seni ada pada tahtanya yang tinggi.

Tak seperti kota Roma yang abadi, Paris telah menjadi ‘ruang kerja sekaligus dipan kematian’ pria eksentrik asal Jerman ini. Namun begitu, Paris pulalah yang membesarkan nama Lagerfeld menjadi salah satu ikon desain pakaian dan aksesoris premium dunia.

Lagerfeld memang sudah pergi ke keabadian. Tetapi seni yang dia tenun dan tinggalkan dalam ribuan desain Chanel tetaplah abadi di bumi fana ini.

Menarik untuk menyimak elegi dari CEO Chanel Alain Wertheimer tentang almarhum Lagerfeld, “Lagerfeld selalu mendahului zamannya, kreativitasnya sungguh jenius, dan ia memiliki kemurahan hati serta intuisi luar biasa yang berkontribusi pada kesuksesan rumah mode Chanel di seluruh dunia.”

Sebentar, saya ingin menyimak lagi kata-kata Wertheimer…”Lagerfeld selalu mendahului zamannya”. Dan saya renungkan dalam-dalam bagian kalimat itu.

Bukankah spirit seni memang tak mengenal zaman? Timeless.

Mungkinkah yang dimaksud Wertheimer adalah ‘trend’, atau sesuatu yang ‘sedang IN’ dalam satu waktu tertentu? Dan, apakah itu berarti mengonfirmasi kembali bahwa industri berbasis seni dan kreativitas berimajinasi takkan pernah lekang dimakan jaman?

Lifestyle 4.0, atau...

Begini maksud saya. Saya bisa menerima adanya istilah Industry 4.0. Istilah ini memang ada sejarahnya dari sejak Revolusi Industri terjadi dengan diketemukannya mesin uap di Eropa.

Kementerian BMBF di Jerman (Kementerian Federal untuk Pendidikan dan Riset) menginisiasi istilah Industry 4.0 ini untuk fokus pada digitalisasi industri manufaktur di negeri panzer itu.

Tetapi mengapa harus ada Education 4.0, Healthcare 4.0, ada juga Military 4.0 meski tak terlalu populer? Lalu ada Art 4.0, Fashion 4.0, mengapa harus latah?

Bila Lagerfeld adalah seorang insinyur, fisikawan, atau programmer, akan sangat lazim untuk memujinya dengan sebutan “ia selalu mendahului zamannya”.

Tapi untuk seorang seniman? Oh no, no… Lagerfeld adalah seorang yang selalu berada tepat di perjalanan jamannya. Ia tahu apa yang diinginkan orang-orang tentang trend fashion. Oleh karenanya, orang-orang itu sangat mengagumi Lagerfeld.

Apa yang orang-orang itu tak ketahui adalah adanya lubang-lubang kekosongan trend di mana seorang Lagerfeld paham betul, di situlah tersedia ruang-ruang untuknya memberi tahu khalayak apa yang pantas mereka kenakan di tubuhnya.

Seolah mendikte, tetapi sebenarnya ia sedang membantu kita menyadari bahwa ada alternatif gaya, dan juga gaya hidup, yang tak kalah indahnya selain yang biasa kita pakai atau jalani.

Cara pikir Lagerfeld juga ada di industri lain.

Apa yang dilakukan Lagerfeld pernah dilakukan oleh Steve Jobs sang pendiri Apple dan perintis keypadless smartphone dengan ekosistem iOS. Di bulan April tahun 2007 ia menjadi bahan cemoohan saat memperkenalkan iPhone generasi pertama. Sebuah ponsel tanpa keypad? You must be kidding!

Tak ada yang menyangka semua smartphone yang beredar beberapa tahun terakhir ini benar-benar meniru apa yang dua belas tahun lalu dirintis Steve Jobs. Dan tiba-tiba keypad dianggap sebagai aksesori purba.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Brad Neuberg yang di tahun 2005 merintis suatu gerakan ‘cara baru berkantor’ yang saat ini dikenal dengan istilah “Co-working Space”.

Neuberg yang tinggal hanya setengah jam dari Silicon Valley bahkan tak digubris oleh industri properti yang menyewakan ruang-ruang kantor untuk perusahaan-perusahaan rintisan hingga perusahaan trans-nasional di sepanjang inter-state dari San Fransisco, San Jose, Santa Clara hingga Malibu.

Kini, banyak perkantoran tak hanya di wilayah-wilayah itu yang perlahan kosong karena rendahnya permintaan sewa ruangan.

Sebagian besar programmer, apps developer, lawyer, arsitek, konsultan keuangan, agen asuransi, dan profesional-profesional lainnya memilih untuk bekerja di co-working space sebagai freelancer kerah emas.

Tak punya kantor sendiri tetapi berpenghasilan super besar. Tak ada lagi gengsi-gengsian. Gagasan co-working space Neuberg mengkombinasikan kenyamanan independensi serta fleksibilitas kerja dengan tetap mempertahankan suasana ‘komunitas kantoran’ yang tak bikin kesepian.

Hari ini ratusan ribu co-working space menjamur di penjuru metropolitan dunia.

Digital Nomad

Lifestyle, atau gaya hidup, tak lagi berbicara soal ‘bagaimana rasanya’ atau soal ‘sensasinya seperti apa’, karena dulu, dulu sekali, itu telah memisahkan kelompok orang-orang berduit dan orang-orang yang masih harus berjuang belanja sembako. Lifestyle kini milik semua orang.

Bila anda ke Bali, cobalah ke Ubud atau tempat-tempat pedesaan. Anda akan menemui beberapa orang bekerja sebagai Digital Nomad di tempat-tempat yang menyerupai kombinasi antara co-working space dan guest house.

Dengan peralatan mobile dan portable, mereka membuka ‘kantor’ di gazebo tepi sawah, atau kursi malas tepi pantai. Sebagian dari mereka hanya memakai kaos oblong dan sandal jepit. Tapi siapa yang peduli?

Setiap akhir pekan mereka mengirimkan hasil kerjanya ke klien-klien mereka di seluruh dunia. Penghasilan mereka mungkin jauh lebih besar daripada kebanyakan kolega mereka yang bekerja di kantor-kantor.

Inilah gaya hidup mereka. Inilah spesies seni baru yang bernama ‘futurism’, dan para digital nomad itulah seniman-seniman yang membantu membentuk masa depan dunia kerja dan perkantoran

Lagerfeld tak jauh berbeda dengan para digital nomad itu. Ia adalah refleksi semangat bekerja yang penuh kegembiraan. Seni mereka – juga Lagerfeld – menjadi mengubah dunia selalu abadi.

Dan bagi para industrialis serta investor, seni ini dengan mudah diuangkan. Tak ada yang terlalu mahal untuk lifestyle: bila anda suka, Anda akan membelinya, berapapun harganya.

Di mural balai kota di Gottingen, Jerman, terpampang sebuah lukisan dengan tulisan “ars longa vita brevis”. Itulah kata-kata Hippocrates dalam buku catatannya berjudul “Aphorismi”…..seni itu abadi, (sedangkan) kehidupan sangat pendek.

Sayang sekali, Lagerfeld, Steve Jobs, dan Hippocrates sudah terlanjur pergi karena hukum alam akan pendeknya kehidupan.

Sebenarnya saya ingin bertanya kepada mereka, bagaimana mereka bisa sangat mengerti gaya hidup seperti apa yang saya dan orang-orang lain inginkan.

Sebenarnya saya ingin bertanya kepada mereka, bagaimana mereka bisa sangat mengerti gaya hidup seperti apa yang saya dan orang-orang lain inginkan.

Dalam permenungan, saya hanya bisa mengingat satu axioma purba…. “If you don’t know what you want, you will probably never get it.” (Oliver Wendell Holmes, Jr.).

Dan seperti kata-kata CEO Chanel Alain Wertheimer tadi, barangkali orang-orang seperti Lagerfeld dan Steve Jobs memang jauh melampaui zamannya.

Mereka pergi ke masa depan untuk memberitahu kita semua apa yang sebaiknya kita beli dan kita pakai hari ini. Tak heran mereka kaya raya!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Futurism # 8: Lifestyle – Karena Tak Ada Yang Ingin Disalahpahami.”, https://money.kompas.com/read/2019/03/11/122527226/futurism-8-lifestyle-karena-tak-ada-yang-ingin-disalahpahami?page=all.

Editor : Heru Margianto