You are currently viewing Cool Village: Desa Unicorn Melawan Xenophobia

Cool Village: Desa Unicorn Melawan Xenophobia

  • Post author:
  • Post category:News

Editor Heru Margianto

LIGA primer di persepakbolaan Inggris yang dikenal juga dengan istilah English Premier League (EPL) adalah liga paling aduhai, paling jet set, berhambur uang dan bertabur bintang. Inilah liga kebanggaan Inggris Raya, terbesar, tersibuk dan paling cuan di dunia!

Tunggu dulu….apakah liga primer ini miliknya bangsa dan orang-orang Inggris? Hmm, …ya dan tidak. Mari kita periksa…lebih tepatnya, mari kita audit!

Klub sepakbola Manchester City adalah juara bertahan liga primer, dimiliki pengusaha Abu Dhabi dan dipimpin manajer asal Spanyol. Tetangganya, Manchaster United dimiliki pengusaha Amerika dan dilatih orang Norwegia.

Mari kita lihat dua klub besar di London. Arsenal dimiliki pengusaha dari Dubai dan dilatih oleh orang Spanyol, sementara Chelsea dimiliki pengusaha minyak asal Russia dan dilatih orang Italia.

Klub Liverpool dimiliki pengusaha Amerika dengan manajer asal Jerman.

Oh jangan lupa Totenham Hotspur dan Leicester City yang menjadi kuda hitam. Hotspur memang dimiliki pengusaha Britania, namun manajernya asal Argentina, sementara Leicester meski dilatih manajer Inggris tetapi klub itu dimiliki pengusaha Thailand.

Apakah dana global melunturkan nasionalisme?

EPL memang liga paling sukses di dunia. Diisi hanya oleh 20 klub terbaik di Inggris, EPL disiarkan secara live di lebih dari 200 negara, tayang di 650,000,000-an rumah dengan jumlah pemirsa lebih dari 4,7 miliar. Rata-rata keuntungan EPL dalam setahun di angka 2,2 miliar Euro. Itu setara 35,3 Triliun!

Bicara soal uang, mari kita cermati hal ini. PUMA, perusahaan sepatu olahraga asal Jerman mensponsori Manchaster City sebesar 50 juta Poundsterling dan mensponsori Manchaster United sebesar 75 juta Poundsterling.

ADIDAS, yang juga asal Jerman, mensponsori Arsenal sebesar 60 juta Poundsterling. Liverpool, bila semuanya lancar, akan memiliki sponsor baru, NIKE asal Amerika yang digadang-gadang akan menggelontorkan dana sponsor lebih dari 75 juta Poundsterling.

Sekali lagi, apakah orang-orang Inggris kehilangan kebanggaannya akan klub-klub kesayangan mereka di liga terbesar di dunia tersebut?

Saya rasa tidak. Sebaliknya, bila harus ditanyakan, apakah orang Inggris bangga dengan Liga Primer mereka? Tentu saja!

Apakah mereka sungguh peduli bahwa dari 20 team yang bermain di Liga Primer tak semuanya dimiliki oleh orang Inggris? Rasa-rasanya tak ada yang terlalu peduli.

Dari 498 pemain sepakbola profesional di EPL, 334 pemain di antaranya bahkan bukan orang Inggris. Itu setara 67%-nya. Apakah Liga Inggris tak lagi menjadi kebanggaan Inggris?

Certainly no, no, no!

Barangkali EPL ini adalah representasi sekaligus refleksi dari proses globalisasi sebuah ‘desa kecil’ yang bernama Inggris Raya.

Rakyat mereka – lepas dari permasalahan soal Brexit – justru senang dan bangga, bahwa EPL telah menghadirkan seluruh dunia, ya penontonnya, yang uangnya, ya industri-industri pendukungnya, masuk ke Inggris.

EPL telah menjadi salah satu signature Inggris yang menjadikan Inggris negara dan bangsa yang besar.

Merek-merek lokal diserbu pendana global. So?

Lalu saya jadi ingat diskursus mengenai empat unicorn (perusahaan rintisan dengan valuasi 1 miliar dolar atau lebih) di Indonesia.

Salah satu dari ke empatnya bahkan siap memasuki status decacorn, dengan valuasi 10 miliar dolar atau lebih.

Saya sangat bangga dan kagum dengan anak-anak muda yang berhasil megikuti gelombang sharing economy dan ecommerce di desa kecil Indonesia ini. Mereka telah membawa nama Indonesia ke panggung teknologi dunia yang selama ini hanya diisi negara-negara maju.

Dalam segala keterbatasannya, mereka berhasil menjadikan perusahaan-perusahaan mereka semenarik EPL di Britania Raya, sehingga perusahaan-perusahaan besar dunia sangat ingin menjadi bagian daripada keempatnya itu?

Dan, mereka berhasil.

Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi serta keuangan global masuk menjadi investor mereka. Lalu sebagian dari kita mulai takut: unicorn kita tak lagi dimiliki Indonesia.

Hmm ….ini pandangan saya.

Pertama, tak ada satu pun yang bisa melawan perubahan, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Kita hanya bisa mensiasatinya dengan bijak namun cerdas.

Kita patut bersyukur bahwa keempat unicorn di desa kecil kita ini benar-benar hasil jerih payah anak bangsa, bukan impor. Dibangun di sini, besar di sini, menjadi berkat bagi puluhan juta orang, … di sini.

Bahwa banyak pendana global yang berminat berinvestasi di keempatnya, patut juga kita syukuri.

Dunia melihat anak-anak desa kita berinvestasi pada diri mereka sendiri dengan peluh dan berdarah-darah dompetnya, wajar bila para investor global ikut meyakini bahwa berinvestasi di anak-anak muda pekerja keras ini akan memberikan benefit terbaik buat mereka dan dunia.

Pendana global tak hanya melihat peluang masa depan, tapi juga bagaimana para pendiri start-up ini secara positif bersikap terhadap segala permasalahan dan tantangan bisnis mereka.

Yang kedua, cara melihat bisnis di dalam negeri tak bisa lagi hanya melihat dalam konteks silo, eksklusif, imune dari dunia luar.

Bisnis, dalam konteks Industry 4.0 lebih melihat pada peran keterhubungan, kesaling-tergantungan, reciprocal benefit. Tak lagi melulu soal resources, tetapi lebih pada ekosistem bisnis global, makro dan mikro.

Silakan bayangkan, berapa banyak pihak dalam negeri yang mau sekaligus mampu mengucurkan dana miliaran dolar bagi ke empat unicorn ini?

Angka yang besar dengan resiko yang belum begitu kelihatan, bukankah itu yang menghambat para pendana lokal untuk secara masif menyerbu industri startup kita?

Terima saja kenyataan ini, kita belum memiliki nyali yang cukup untuk membuang umpan besar demi menangkap ikan raksasa.

Yang ketiga, ‘brand portfolio’ yang bakal melekat erat pada desa kecil bernama Indonesia ini.

Tahun 1999 satu produsen kecap dan saus nasional diakuisisi mayoritas sahamnya oleh perusahaan raksasa asal Amerika HJ Heinz senilai 70 juta dolar.

Di tahun 2003 HJ Heinz kemudian diakuisisi mayoritas sahamnya oleh miliarder Warren Buffet senilai 28 miliar dolar.

Bayangkan, sebuah produk lokal yang lahir di desa kita dipinang sebuah perusahaan global yang kemudian diakuisisi oleh seorang investor jenius seperti Warren Buffet.

Rumor mengatakan, “apapun yang dibeli oleh Warren Buffet pasti bagus, dan akan makin bagus.” Kisah selanjutnya menjadi sejarah pabrik saus dan kecap itu.

PR kita semua: membangun kepercayaan diri dan nyali

Bisnis konvensional belum bisa melihat konsep keterhubungan dalam konteks sharing economy and ecosystem ini secara jernih.

Mereka lebih takut kehilangan umpan ketimbang kehilangan kesempatan. Mereka takut kepada dunia luar yang mungkin di sudut penglihatan mereka, seperti dunia yang akan menghancurkan desa mereka.

Mereka belum siap melihat efek berantai dari masuknya dana global ke unicorn-unicorn di desa kita ini: ratusan ribu UMKM yang bangkit dan terkoneksi dengan pasar global, menjamurnya industri kreatif, makin cerdasnya anak-anak muda melihat peluang, dan yang sangat penting, transformasi sistem pendidikan dasar dan menengah kita yang tak boleh lagi menafikan trend-trend global di mana anak-anak kita bisa belajar melalui ‘sumber-sumber pendidikan global’ dari kamar tidur mereka.

Mirip kisah di film Apocalypto. Kepala suku Maya, Flint Sky, berbicara kepada Jaguar Paw, anaknya yang beranjak dewasa, “Aku tidak membesarkanmu untuk tunduk pada rasa takut nak. Lawan dengan hatimu. Jangan pernah bahwa ketakutan itu ke desa kita!”

Saya kira para leluhur di desa kita, Indonesia, pun akan berbicara hal yang sama kepada kita. Mereka tak ingin kita membiarkan rasa takut masuk ke desa kita, alih-alih mengundangnya masuk. Apocalypto!

Saya tetap bangga dengan prestasi unicorn-unicorn di desa kita ini. Saya yakin, keempatnya akan menarik bisnis-bisnis rintisan yang lain untuk melakukan hal yang sama: meminang dana global, membawa panggung teknologi global dunia ke desa kita ini, dan tentu saja mengharumkan nama Indonesia.

Seperti prinsip di Liga Primer Inggris, tak akan ada yang kehilangan kebanggaan nasional serta nasionalisme hanya karena orang-orang lain masuk ke desa kita, memuji penduduk desa kita yang luar biasa, dan ikut menari bersama-sama mengitari api unggun keberhasilan desa ini menjadi panggung dunia.

Benar kata Diego Simeone, manajer klub Atletico Madrid, “En la vida, hay que creer”. In life, you have to believe.

I believe. Do you?

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Cool Village: Desa Unicorn Melawan Xenophobia”, https://money.kompas.com/read/2019/03/08/075231726/cool-village-desa-unicorn-melawan-xenophobia?page=all.

Editor : Heru Margianto