fbpx

Jangan Suruh Mereka Pulang dari Silicon Valley


Editor : Erlangga Djumena

PICHAI Sundaradjan hanyalah anak kemarin sore di Madurai, Tamil Nadu, India. Setelah lulus dari Indian Institute of Technology di Kharagpur, ia mengadu nasib ke Amerika dan bekerja di Applied Materials, lalu lanjut sebagai konsultan di McKinsey & Co.

Tak puas sukses sekedar berkarir di Amerika, ia menambah ilmunya dengan belajar di dua kampus prestisius di Amerika untuk meraih dua gelar Masternya: di Stanford untuk belajar Material Sciences & Engineering, lalu di Wharton Business School untuk MBA-nya.

Nasib baik tak berhenti di situ. Tahun 2004 ia bergabung dengan Google dan sejak itu bertanggungjawab atas pengembangan berbagai layanan Google yang kita nikmati setiap hari saat ini: Google Chrome, Gmail, Google Maps, Google Drive, termasuk pengembangan terus menerus Android OS.

Tanggal 10 Agustus 2015 dia diangkat menjadi CEO Google LLC oleh duo pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Hari ini, Sundar Pichai – dengan nama itu ia dikenal luas – menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh tak hanya di Silicon Valley, tetapi juga di planet Bumi.

Sundar Pichai tak sendirian mengalami nasib baik seperti ini. Kompatriotnya asal India kelahiran Hyderabad, Satya Nadella bahkan menjadi CEO Microsoft setahun sebelumnya. Ini melengkapi daftar India perantauan yang seakan menancapkan bendera-bendera mereka di puncak Everest korporasi-korporasi besar dunia.

Sebut saja Indira Nooyi kelahiran Madras yang jadi CEO Pepsi Co, Ajaypal Singh Banga kelahiran Pune yang menjadi CEO Mastercard, atau Shantanu Narayen yang menjadi CEO Adobe, Rajeev Suri kelahiran New Delhi yang menjadi CEO Nokia, dan juga Sanjay Kumar Jha yang menjadi CEO Motorola Mobility setelah sebelumnya menjabat sebagai COO Qualcom.

Oo, jangan salah. Saya tak membahas hal yang sangat spesifik tentang India dan orang-orang hebatnya. Memang menurut penelitian di Universitas Southern New Hampshire, para manajer India di perantauan, artinya tak hanya di Silicon Valley saja, rata-rata sukses berkarir di korporasi karena ‘paradoxial blend of genuine personal humility and intense professional will’.

Tunggu dulu, mari kita cerna karakteristik pertama: genuine personal humility. Bukankah rata-rata (tanpa menggeneralisasi) orang Asia Selatan dan Tenggara memiliki karakteristik itu?

Sekarang mari kita cerna di mana letak paradoks-nya: intense professional will. Nah, barangkali inilah kekuatan kultur orang-orang India perantauan. Mereka sangat kompetitif dan agresif menjadi yang terbaik di kelasnya, di angkatannya, di perusahaannya. Sampai di sini saya puas memahaminya.

Apakah mereka harus pulang kampung?

Ya dan tidak. Mari kita lihat petualangan kehidupan si anak miskin asal Ukraina, Jan Koum. Bersama Brian Acton ia mengembangkan instant messaging terpopuler saat ini, Whatsapp (WA), dan saat Facebook mengakuisisi WA dengan harga fantastis senilai 19 miliar dollar AS, apakah Ukraina lalu memanggilnya pulang sebagai borjuis baru? Tidak.

Eduardo Saverin, co-founder Facebook, kekayaannya sudah lebih dari 9 miliar dollar AS. Apakah ia harus balik ke kampung halamannya di Sao Paulo, Brazil? Tidak. Ia bahkan menetap di Singapura dan menikahi gadis Indonesia di sana.

Petenis nomor satu dunia asal Serbia, Novak Djokovic, dengan penghasilannya yang lebih dari 130 juta dollar AS selepas memenangkan berbagai turnamen dunia, apakah ia pulang ke Belgrade di Serbia? Tidak. Ia bahkan menetap di Monte Carlo, Monaco, dan dari sana ia mengharumkan nama Serbia di pertandingan-pertandingan besar dunia.

Mereka semua adalah outliers dari desanya masing-masing, melawan berbagai ketidak-mungkinan di negeri seberang, di perantauan. Habitat mereka adalah desa yang lebih besar, lebih luas, dunia global. Mereka sudah menjadi global citizen. Memangnya, siapa yang mengharuskan mereka pulang kampung?

Saya kembali ke Indonesia tahun 2003 bukan karena latah spirit pulang kampung. Ayah saya sakit dan kemudian wafat.

Lalu sejak itu saya sering mendengar semacam ajakan untuk orang-orang Indonesia yang sudah berhasil di perantauan pulang kampung membangun Ibu Pertiwi. Mottonya: Indonesia membutuhkan kalian.

.

(Oh, tentu saja Indonesia selalu membutuhkan kalian, tapi tidakkah dunia yang lebih besar membutuhkan otak-otak encer Indonesia untuk membangun dunia yang lebih besar agar lebih baik? Bukankah otak Indonesia membutuhkan banyak ‘kantor cabang’ di seluruh dunia?)

Mereka tak harus pulang kampung. Lebih baik mereka berjuang dengan lebih keras hingga mencapai level prestisius seperti pencapaian Sundar Pichai, Satya Nadela, Jan Koum, Novak Djokovic atau Sergey Brin. Mereka akan menjadi perpanjangan tangan Indonesia di delapan penjuru mata angin. Mereka akan menjadi brand-ambassador atas suatu bangsa yang keren dan menawan bernama bangsa Indonesia. (No? Note sure yet?).

Dari India, belajar ke China

Semangat kembali ke kampung dan membangun kampung halaman tentulah suatu hal yang sangat mulia. Apalagi bila kampung halaman memerlukan inspirasi hidup yang menjadi contoh ‘ini lho si anu yang sudah sukses di sana’.

Bila ada perantau-perantau yang memilih pulang kampung karena alasan-alasan beragam dan tentu pribadi, alam akan mengizinkannya terjadi sedemikian rupa.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berencana pulang kampung dan menetap di perantauan? Kita hanya bisa meyakini mereka memiliki alasan luhur dan mulia untuk itu. Jangan paksa mereka pulang.

Dua puluh atau tiga puluh tahun lalu saya merasakan sendiri bagaimana pulang kampung adalah jawaban atas kerinduan akan orang-orang yang selama bertahun-tahun kita tinggalkan dan berdoa agar kehidupan kita di perantauan berhasil serta menjadi berkat bagi mereka.

Pulang kampung adalah cara terbaik membalas utang budi kita. Tak semua orang memiliki peruntungan yang sama. Beberapa pulang kampung dan bingung mau mengerjakan apa karena keahlian baru mereka dari negeri seberang belum begitu bisa dimanfaatkan di kampung halaman mereka.

Saya membayangkan seorang Sehat Sutardja (bersama saudaranya, Pantas Sutarja) yang sukses membangun pabrik cip/semikonduktor di California, Marvell Technology Group.

What if….nah di sinilah saya kepo, apa yang akan terjadi bila tahun-tahun itu mereka berdua langsung pulang ke Indonesia dan membangun pabrik semikonduktor di Jakarta atau Surabaya misalnya.

Tak ada yang tahu persis kemana atau seperti apa nasib akan membawa mereka berpetualang.

Tetapi yang saya sudah pasti tahu, industri semikonduktor belum siap dibangun di Indonesia pada waktu itu, bukan karena soal teknologinya, tetapi karena lingkungannya belum mendukung: pasar dalam negeri belum siap menyerap output-nya, perlu skala ekonomi yang logis untuk itu

SDM-nya pun belum banyak yang mengerti teknologi dan proses fabrikasi semikonduktor.

Dana – darimana dapat dana untuk memulai bangun pabrik bila perbankan belum bisa menemukan logika bisnis serta kontinyuitas usaha pabrik semikonduktor dalam proposal pengajuan kreditnya waktu itu?

Seiring waktu, industri hi-tech di Indonesia bergerak sangat cepat, banyak investor asing masuk Batam, Semarang, Jabodetabek, Bali, dan barangkali bila saat ini akan banyak bangun pabrik barang-barang berteknologi tinggi pun, kita tak harus memanggil pulang hot-brains Indonesia yang sedang berkarya di Silicon Valley, Seattle, Guangzhou, Shenchen atau bahkan di pusat-pusat teknologi dunia.

Kampus-kampus dalam negeri saat ini sudah siap mensuplai hot-brains untuk pabrik-pabrik baru itu. Jadi, mengapa harus panggil para perantau teknologi itu pulang kempung?

China dan India tak memanggil pulang jenius-jenius mereka dari Silicon Valley atau pusat-pusat bisnis dan teknologi dunia. Justru dengan cara itu, mereka telah menghadirkan China dan India ke Silicon Valley, ke Wall Street, Hollywood, London, Frankfurt, Chicago, you name it, you have it…!

Bayangkan suatu saat di masa depan kita akan melihat kehadiran Indonesia yang sangat kuat di tempat-tempat itu, dan brand-portfolio terkuatnya bukan ekspor produk-produk teknologinya, tetapi SDM-nya. Biarkan mereka menjadi perpanjangan tangan masyarakat bisnis Indonesia untuk masuk ke kancah global.

Sekali lagi, jangan suruh mereka pulang kalau kita tidak siap menerima ambisi dan visi mereka

Tahukah para pembaca yang budiman? Sebelum Sundar Pichai pada akhirnya diangkat menjadi CEO Google di tahun 2015 untuk menggantikan Larry Page, setahun sebelumnya Microsoft meminangnya untuk posisi yang sama.

Bayangkan, bila nama India dalam diri seorang Sundar Pichai dipinang dua raksasa teknologi, mengapa tanah India harus memanggilnya pulang. Bukankah lebih baik Sundar Pichai tetap berada di Silicon Valley dan menjadi jembatan bagi otak-otak encer serta perusahaan-perusahaan startup India masuk ke pasar global?

Hanya semesta yang tahu. Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Jangan Suruh Mereka Pulang dari Silicon Valley”, https://money.kompas.com/read/2019/06/13/073100426/jangan-suruh-mereka-pulang-dari-silicon-valley?page=all.

Editor : Erlangga Djumena