fbpx

Futurism #3: Segala Hal tentang 4.0

Editor Heru Margianto

PERTENGAHAN tahun ini saya diundang menjadi salah satu pengisi acara diskusi mengenai Education 4.0 oleh sebuah lembaga pendidikan yang cukup dikenal karena prestasi siswa-siswinya di berbagai kompetisi keilmuan internasional.

Education 4.0?

Saya terpaksa mencari referensi sebanyak mungkin untuk menyiapkan materi saya, bukan tentang Education 4.0 itu sendiri, tetapi setengah mati saya mencari referensi tentang Education 1.0, lalu 2.0 dan juga 3.0.

Jujur saja, saya merasa baru bisa berbicara tentang Education 4.0 dengan pede hanya setelah memahami perjalanan panjang dari Education 1.0 hingga lahirnya 4.0. Saya tidak mengambilnya dari sudut pandang sejarah.

Keilmuan saya, juga pekerjaan saya sehari-hari, adalah membaca pola, menemukan probabilitas, dan bila memungkinkan, membuat perencanaan agar trajektori yang saya maksudkan tadi sesuai antara kecenderungan pola-pola terdahulu dengan probabilitas di masa mendatang. Sangat pragmatis!

 

Akhirnya tak ada yang benar-benar bisa jadi referensi. Dan saya pun tak mau mengarang cerita soal Education 1.0, 2.0 atau 3.0. Saya menyerah.

Namun karena ada tiga pembicara yang lain, saya hanya bisa berharap bahwa saya mendapatkan urutan terakhir mengisi sesi, sembari meraba-raba bagaimana topik Education 4.0 sebaiknya dibicarakan.

Dalam diskusi itu, akhirnya muncul satu kata kunci yang sangat penting: alignment. Keselarasan. Keterkaitan, dan sekaligus keterhubungan

Alignment dan distributed-value

Alignment, hmm…bagi saya itu tak jauh beda dengan milestones dalam trajektori, atau semacam pit-stop dalam lintasan trek balap MotoGP. Itu adalah titik-titik keselarasan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, lalu masa kini dengan masa depan.

Untuk mencari padanan paling sederhana dalam Education 4.0 ini, alignment menjadi sangat penting karena ujung-ujungnya adalah berapa besar value yang diciptakan serta didistribusikan.

Waktu saya memakai formulasi ini untuk memahami konsep Industry 4.0 yang sudah lebih dulu populer dan yang trajektorinya dicatat resmi oleh sejarah, ternyata ‘alignment’ dan ‘future distributed-value’ ini selalu ada.

 

Dalam diskusi mengenai Education 4.0 tadi, alignment mengacu pada dua hal: kurikulum pendidikan, dan metodologi proses belajar-mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan peserta didik. Singkatnya, content dan delivery.

 

Dalam diskusi waktu itu, tak ada perdebatan sengit. Tampaknya semua sepakat bahwa baik kurikulum dan metodologi pembelajaran harus diperbaiki, diubah-suai, agar selaras dengan probabilitas seperti apa dunia kerja – atau pasar masa depan – akan menyerap para lulusan yang mereka hasilkan. Saya juga sepakat. Peristiwa diskusi itu lalu saya lupakan untuk sesaat.

Tak lama setelah itu saya pun menemukan banyak terminologi baru yang di belakangnya di-embel-embeli 4.0: Healthcare 4.0, Fashion 4.0, Corporate Governance 4.0, Culture 4.0, Energy 4.0, dan sebenarnya para pembaca boleh membuat sendiri semuanya yang serba 4.0.

Bukan soal kemana perginya masa lalu

Dalam banyak diskusi, pertanyaan-pertanyaan seperti ‘kemana perginya kapal-kapal layar’, atau kemana hilangnya kertas-kertas karbon dan mesin ketik, telah memenuhi diskusi-diskusi soal disrupsi maupun shifting.

Tetapi, apakah pengetahuan kita akan bertambah dengan mengetahui ke mana perginya kapal-kapal layar, kertas karbon dan mesin ketik itu, atau mengapa semuanya menghilang?

 

Mungkin pengetahun kita memang akan bertambah sedikit. Barangkali dengan mengenang lagu-lagu lama yang makin jarang diputar stasiun-stasiun radio di ibukota, ingatan kita akan dibawa kembali pada kenangan indah saat mencari kekasih dulu yang tak sesulit sekarang ini.

Tapi memikirkan soal lagu-lagu seperti apa yang akan laku dan disukai pasar di masa depan jelas akan memberi keuntungan besar untuk kita karena bisa dikapitalisasi menjadi keuntungan komersial.

Setidaknya begitulah skenarionya. Good metaphor!

Futurism, dalam konteks semuanya serba 4.0, lebih menyukai petualangan-petualangan baru demi mencari ‘apa yang akan tiba di dermaga saat kapal-kapal layar tak lagi singgah’

Futurism yang ini – untuk membedakan dengan dua tulisan saya sebelumnya yang juga mengenai Futurism– memakai formula alignment dan distributed-value yang sama dalam trajektorinya.

Dan dengan demikian, pola-pola perubahan masa lalu menjadi komponen penting, lepas dari apa sebutannya, yang jelas saat ini paling enak disebut 4.0 (dan saya tak terlalu terkejut bahwasannya tak ada yang terlalu peduli soal trajektori ini).

Saya beberapa kali ‘menemani’ beberapa tim yang berbeda mengembangkan kemampuan membaca pola dan probabilitas dari hal-hal yang sederhana, yang sehari-hari mereka lihat atau alami.

Misalnya, apa yang akan terjadi hari ini bila kebijakan outsourcing ditiadakan karena suatu hal. Sebagian berpikir dengan kerutan di kening, “wah berat bagi perusahaan-perusahaan yang masih belum stabil keuangannya.”

Namun sebagian lainnya berpikir sebaliknya, “Tenang saja, pasti akan lahir suatu skema baru yang lebih efisien dan fair.”

Saya sedikit lega. Setidaknya ada yang masih tertantang untuk memikirkan semua probabilitas yang mungkin terjadi di masa mendatang, atau berupaya mempengaruhi agar satu probabilitas tertentu mengarah dalam trajektori yang mereka harapkan dan tunggu untuk terjadi.

Orang-orang seperti ini, dan jumlahnya makin banyak, adalah yang tak terlalu peduli pada menghilangnya kapal-kapal layar.

 

Mereka sangat excited untuk melihat dalam waktu dekat tak hanya apa atau siapa yang akan tiba di dermaga itu, tapi lebih liar lagi imajinasi mereka, dermaga itu kelak akan menjadi apa?

Sambil berjalan di jembatan penyeberangan Semanggi, saya berhenti sejenak melihat ke bawah ke kerumunan penjual bubur ayam dan gorengan. Ada banyak hal yang saya pikirkan tentang mereka.

Mereka adalah risk-taker 4.0 yang sesungguhnya. Kita tak pernah tahu berapa mangkok bubur atau gorengan yang bisa mereka jual hari itu. Mereka juga tidak tahu. Tapi mereka tak pernah khawatir.

“Anything at all is possible. Some things are unlikely. Some things will never happen. But they always could, at any time.” ? Ashly Lorenzana

Hanya rumput 4.0 yang bergoyang yang tahu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Futurism #3: Segala Hal tentang 4.0”, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/17/101500426/futurism-3–segala-hal-tentang-4.0?page=all.

Editor : Heru Margianto