Futurism #4: The Magnificent Seven dan Hadirnya Era Freelancer

  • Post author:
  • Post category:News
  • Post comments:0 Comments

Editor Ana Shofiana Syatiri

Membayangkan masa depan pekerja di seluruh dunia seperti mencoba menghindari mimpi yang tak terlalu jelas, apakah itu mimpi buruk, ataukah sebuah mimpi yang menerawang masa depan yang memukau.

Saat mengetahui bahwa salah satu outsource company terbesar di dunia akan mem-PHK seratus ribuan pekerjanya, saya hampir putus asa. Perusahaan-perusahaan semacam itu kan sangat dibutuhkan dalam ekonomi global dengan bisnis-bisnis yang terdisrupsi seperti rentetan jatuhnya domino.

Perusahaan-perusahaan seperti itu adalah salah satu pelengkap fungsi sub-spesialisasi saat merekrut ‘karyawan tetap’ tak lagi menjadi pilihan utama sebagian besar industri yang berbasis teknologi.  

Untuk sesaat, pikiran itu mengganggu saya, sampai malam harinya saya menonton sebuah film di satu channel berbayar. Tak lama kemudian beberapa hal mulai merubah pemikiran saya.

Sebuah tim yang tak diduga-duga

Rose Creek hanyalah sebuah desa kecil di wilayah pertambangan yang dikotori darah dan air mata. Ia mewakili sebuah dunia antah berantah di Wild West. Dan barangkali juga memberikan gambaran akan belahan dunia lainnya saat itu: outlaw, ketiadaan tatanan, ketidakberaturan. Hukum rimba dalam skala mini!

Tahun 1879, taipan pertambangan Bartholomew ‘Bart’ Bogue yang sangat brutal dalam menjalankan usahanya memaksa penduduk Rose Creek menjadi pekerja di tambangnya. Beberapa warga mulai menentang kekejian itu termasuk Mathew Cullen yang dituakan di Rose Creek.

Dalam sebuah pemberontakan terhadap Bart Bogue dan puluhan centengnya, Mathew tewas. Penduduk makin hidup dalam ketakutan, namun belum menyerah. Dalam pertemuan rahasia dengan beberapa tetua penduduk, janda Mathew, Emma Cullen menyepakati untuk menyewa pemburu hadiah (bounty hunter) agar Bart Bogue bisa ditangkap dan dipenjarakan. Mereka hanya ingin penduduk Rose Creek kembali hidup damai, berapapun ongkosnya.

Seorang Marshal berkulit hitam, Sam Chisolm, menerima tawaran warga Rose Creek. Bukan hanya soal hadiahnya yang ia kejar. Secara pribadi, nama Bart Bogue sudah menjadi bagian dari dendamnya sendiri.

Sembari meminta waktu, Chisolm merekrut beberapa orang yang ia anggap mampu bekerja sama dengan dirinya meringkus Bart Bogue. Uniknya, cara Chisolm merekrut sungguh di luar kewajaran, karena ia merekrut orang-orang yang sulit diajak bekerja dalam tim, masing-masing sangat arogan dengan keahliannya, pembangkang dan jelas tak akur. Ada penjudi, napi pelarian dari Mexico, juga imigran Korea.

Akhirnya Chisolm berhasil merekrut lima orang ‘tak waras’. Total jadi ber-enam. Cukup kah? Sebenarnya mungkin cukup. Tapi dalam satu kesempatan mereka dihadang oleh petarung suku Indian Comanche bernama Red Harvest. Brutal dan tak berbelas kasihan. Dengan keahlian persuasi Chisolm, akhirnya Red Harvest setuju bergabung, namun untuk suatu alasan yang sedikit berbeda. Team tujuh orang terbentuk. The Magnificent Seven!

Terbitnya sebuah harapan baru

Antoine Fuqua yang menyutradarai remake film “The Magnificent Seven” (2016) mungkin tidak menyadari bahwa film tersebut memberikan inspirasi bagi para eksekutif korporat tentang bagaimana merekrut orang-orang yang kelihatannya tak waras.

Beberapa perusahaan konsultan telah memakai instrumen yang tak konvensional dalam merekrut karyawan, misal dengan game. Beberapa lainnya dengan membuat sebuah analisis dari studi kasus, dan lainnya lagi memakai instrumen problem solving untuk memecahkan teka-teki. Tehnik wawancara tak lagi satu arah. Lebih tepat disebut ngobrol.

Di luar dugaan, kebanyakan yang lolos adalah orang-orang yang secara umum tak terlalu berprestasi di nilai-nilai akademik mereka, kecuali beberapa faktor: mereka suka tantangan, mereka suka game, mereka tak suka protokol, dan ingin gerak cepat. Mereka juga tak ingin dianggap sebagai karyawan, tapi lebih sebagai mitra. Mereka rela dibayar dengan gaji tetap yang tak kompetitif tapi minta insentif selangit untuk setiap pencapaian target mereka. Persis seperti pembelaan Emma Cullen atas pilihannya memanggil bounty hunter, “Don’t be afraid. I have assembled these men and offered fair pay.”  

 

Untuk sejenak saya masih memikirkan bagaimana ratusan ribu karyawan perusahaan out-sourcing itu akan menentukan nasib mereka pasca di-PHK. Tetapi, bukankan perusahaan out-sourcing itu sendiri adalah bagian dari inovasi yang sepuluh dua puluh tahun lalu menggoyang job market?  

Tapi melihat aksi para hero di “The Magnificent Seven” membuka mata saya bahwa keahlian khusus yang dieksekusi dengan penuh percaya diri (kadang disalah-terjemahkan sebagai suatu kesombongan) justru yang memberikan mereka ‘bounty’, hadiah buruan, yang dalam konteks dunia korporat moderen adalah insentif atau fee yang selangit itu tadi.

Pada akhirnya, bukankah setiap orang sudah harus memikirkan sub-spesialisasi masing-masing? Saat industri pisau, gunting dan obeng dilipat oleh Victorinox, bukankah pabrik pisau, gunting dan obeng tetap bertahan? Bahkan banyak di antaranya yang tetap untung besar dengan membuat varian yang sangat disukai pasar?

Sam Chisolm dalam “The Magnificent Seven” adalah representasi para free-lancer yang memberikan pesan jelas kepada penyewanya bahwa mereka sangat bisa diandalkan, memiliki portfolio yang lengkap, dan harga yang diminta pun sepadan.

Hari ini di berbagai coffee-shop di kota-kota besar dunia dari pagi hingga larut anda akan lebih sering melihat anak-anak muda hingga yang hampir usia pensiun duduk bekerja dengan laptopnya, berbicara dengan orang-orang, membuka dan mempresentasikan catatan atau hasil kerja mereka. Mereka adalah para IT professionals, legal officers dan lawyer, financial consultants, tax consultants, penterjemah tersumpah, business advisors, dan banyak lagi orang-orang yang memperkenalkan diri mereka sebagai konsultan ini itu.  Mereka adalah para bounty hunters, para freelancers, orang-orang yang tak takut bekerja tanpa safety nett.

 

Permainan sudah berubah. Arena sudah berubah. Orang-orang pun berubah dari generasi ke generasi.

Saat otoritas Emma Cullen dalam The Magnificent Seven dipertanyakan kembali atas dasar apa ia mewakili pendapat umum warga Rose Creek dalam memutuskan menyewa pemburu hadiah, Emma menegakkan kepalanya, menatap mata si barber yang tak suka dirinya memimpin….”It seems I was the only one with balls enough to do so. So I did.”

Saya lega. Singkat kata, tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam evolusi industri global. Selalu saja ada yang baru saat yang lama punah. Selalu saja ada yang bernyali untuk membuat keputusan besar di masa-masa kritis.

Benar kata-kata Sam Chisolm, “….what we lost in the fire, we found in the ashes.”

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Futurism #4: The Magnificent Seven dan Hadirnya Era Freelancer”, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/23/163159126/futurism-4-the-magnificent-seven-dan-hadirnya-era-freelancer.

Editor : Ana Shofiana Syatiri