Futurism #5: Happening, Kutahu yang Mereka Mau

Editor Amir Sodikin

YANG dibutuhkan bukan keajaiban ilmu sihir, atau teknologi roket ruang angkasa. Mereka hanya ingin happening.

Happening? Happening  apaan?

Sudah sejak tahun 2003 saya tinggal di Jakarta meski pindah-pindah. Anggap saja saya warga Jabodetabek.

Saya ingat sekali tahun-tahun itu dan kira-kira sampai tahun 2010-an, mal-mal bertumbuh sangat pesat, sepesat pertumbuhan apartemen. Di mana ada mal, di situ ada apartemen atau perkantoran.

Di mana ada apartemen dan perkantoran, di lobinya ada satu atau dua coffee shop. Dan karena hiruk-pikuknya mal, apartemen serta perkantoran, jualan apa saja terasa mudah. Paman angkat saya bilang, tutup mata saja sudah cuan.

Di tahun-tahun itu mal-mal disesaki tenant dengan segala jenis bisnis, bahkan ada yang hanya buka gerai lepas seperti pondok-pondok untuk jualan gadget atau aksesorisnya. Cuan puluhan juta tiap bulan.

Gerai-gerai retail yang disesaki masyarakat menengah ke bawah pun penuh, nyaris tak ada yang kosong. Di lorong-lorongnya banyak lapak-lapak lepas jualan macam-macam. Sebuah pemandangan yang pas untuk dibilang Indonesia lagi booming.

Tiga tahun terakhir ini pemandangannya berbeda. Sebagian gedung perkantoran, terutama di tempat-tempat yang biasa kena macet mulai ditinggalkan tenant-nya. Parkiran tak lagi penuh sesak.

Beberapa perkantoran bahkan tak ada lagi coffee shop-nya, sebagian mal-mal mulai tak lagi menarik bagi tenant-tenant yang bergantung pada masifnya jumlah massa pengunjung.

Lagi-lagi parkiran sepi. Perusahaan jasa secure-parking dan vallet satu per satu kabur dari mal-mal tersebut.

Ke mana perginya puluhan bahkan ratusan coffee shop itu? Lapak-lapak lepas di mal, pada ke mana mereka?

Mari kita kunjungi Times Square di jantung Manhattan, New York. Tak ada yang terlalu istimewa dari tempat itu.

Mungkin hanya faktor sejarah, atau film-film Hollywood yang telah membuatnya menjadi legenda. Selain itu, hanya gedung-gedung tinggi yang dindingnya dipenuhi puluhan videotron dengan iklan-iklan menarik.

Di sekitarnya ada yang jualan hotdogs, kebab, beberapa resto cepat saji. Sayang tak ada yang jualan jagung bakar atau nasi kucing.

Saya ingat dua tahun yang lalu saya susuri Times Square hingga pojok-pojoknya. Ada Madame Tussaud, ada beberapa teater Broadway musicals.

Antara tahun 1994 dan 1995 saya beberapa kali menonton musicals itu. Dulu suatu kemewahan, dan memang wah. Pertunjukan seperti Tommy, atau Phantom of the Opera….wah banget!

Times Square bukan satu-satunya model untuk kita pelajari. Apa yang ada di Times Square, sudah direplikasi di Ginza Tokyo, atau Victoria Harbour di Hong Kong.

Tampaknya Shanghai, Dubai, atau Trafalgar Square di London serta Las Ramblas di Barcelona memiliki versi lain Times Square yang tak kalah menarik. Semua datang ke situ. Untuk belanjakah? Belum tentu? Lalu untuk apa?

Happening. Mereka datang untuk kongkow.

 

Wisatawan – dalam arti luas termasuk orang-orang yang pergi ke mal-mal – tak lagi berpikir soal belanja saja saat mereka pergi ke mal, atau ke suatu tempat.

Mereka hanya ingin melihat ‘something is going on’, sebuah happening, yang layak mereka datangi, lihat, nikmati dan mereka menjadi riang.

Belanja hanya soal waktu. Itu bonus. Itu hanyalah sebuah akibat. Bila mereka riang, mereka tak terlalu peduli pada seberapa dalam kantong yang harus mereka rogoh untuk itu.

Happening is the new addiction!

Manajemen mal yang cerdik tahu betul bahwa jumlah tenant yang banyak tak menjamin orang akan berduyun-duyun mendatangi mall mereka. Yang diperlukan bukan semata-mata itu.

Lihatlah, Times Square ya begitu-begitu saja. Tapi setiap sore hingga larut, ada saja yang orang lihat: street magicians, street acrobats, gemerlap videotron yang menayangkan produk baru, film baru, acara-acara di Madisson Square, Broadway, dll.

Masyarakat konsumen ingin melihat ada aktivitas apa saja yang mereka bisa datangi. Itu berlaku nyaris universal untuk mempolakan bagaimana preferensi konsumen saat ini sedang berevolusi. Mari kita cari kontekstualitasnya dalam industri lain.

Pokemon Go, misalnya, adalah sebuah game fenomenal karya bersama antara Niantic Labs dan Nintendo di bawah arahan John Hanke dan Tatsuo Namura, menjadi begitu populer dan disukai keluarga-keluarga karena melibatkan happening itu tadi.

Stereotype game yang bikin anak-anak kecanduan, menjadi bodoh dan anti-sosial, diubah total melalui hadirnya Pokemon Go yang berbasis GPS dan teknologi Augmented Reality (AR).

Keluarga menjadi bersatu kembali di akhir pekan: bersama-sama belanja ke mal sambil berburu monster, piknik sambil berlomba mencari monster, dll.

Pokemon Go, adalah contoh desain permainan yang mengutamakan happening – orang-orang beranjak dari sofa atau tempat tidur – kesana kemari berburu monster, bahkan hingga berburu ke museum, kebun binatang, pusat perbelanjaan, perkantoran, taman kota, pantai, gunung, dll. Para gamer menjadi sehat mental dan jasmani.

Contoh lainnya, kota Las Vegas. Jangan terkejut, orang-orang datang ke sana tak hanya soal mau buang uang untuk judi.

Judi bisa dilakukan di tempat-tempat eksotik lainnya: Foxwood di Connecticut, Atlantic City di New Jersey, Macau di China, Monte Carlo di Monaco, atau di Bahama, Costa Rica, Marina Bays, …you name it you have it!

.

Orang-orang pergi ke Las Vegas karena banyak pertunjukan konser musik dari artis-artis terkenal, pertarungan tinju, MMA, dan salah satu gelaran terbesar dunia CES (Consumer Electronic Show) setiap awal tahun yang menghadirkan ribuan peserta dari produsen-produsen teknologi tinggi dan pameran hasil inovasi terkini.

Las Vegas tak lagi dianggap sebagai kota para pendosa. Las Vegas adalah tempat lahirnya banyak happening!

Saya jadi teringat beberapa waktu lalu mendatangi sebuah mal besar di Tangerang Selatan yang memiliki tak hanya satu atrium. Dalam satu weekend, ada banyak happening di sana: bazaar kuliner/ jajanan pasar, pameran pendidikan nasional (diikuti sekolah-sekolah di Tangerang Selatan), pameran mainan anak, pameran alat olah raga.

Mal menjadi sangat hiruk pikuk. Tak hanya susah cari parkir, cari tempat kosong mau makan siang saja susah.

Nasihat untuk anda yang berbisnis properti, tempat makan, café…..sesekali datanglah Anda ke tempat Anda berbisnis sebagai ‘orang lain’, imajinasikan apa yang Anda harapkan saat akan memasuki tempat itu.

Kalau Anda hanya memikirkan soal makanan yang enak, atau kopi yang sedang, atau suatu tempat tinggal yang nyaman, mungkin anda sedikit tidak jujur pada diri anda sendiri.

Imajinasikan lebih dalam lagi…dan ingatlah kata-kata P.T. Barnum dalam film The Greatest Showman, “Men suffer more from imagining too little than too much….(and) no one ever made a difference by being like everyone else…”

Sambil menikmati lumpia di suatu sore di sebuah kafe kecil yang padat pengunjung, saya hanya manggut-manggut sendirian…..pada akhirnya semua bisnis adalah show business. What we want to see is more and more happening!

Eureka!

(AC Mahendra K Datu)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Futurism #5: Happening, Kutahu yang Mereka Mau”, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/28/133145226/futurism-5-happening-kutahu-yang-mereka-mau?page=all.

Editor : Amir Sodikin