Posted on 1 Comment

“Wind Talkers” dan Integritas yang Dipertanyakan Kembali

Editor : Heru Margianto

DI tengah pertempuran melawan pasukan Jepang di pulau Saipan, Prajurit Ben Yahzee, seorang radio-man keturunan Indian Navajo mengingatkan kembali argumentasi di antara para pasukan Amerika yang terjebak di pertempuran itu. Mereka kalah jumlah, kalah pemahaman medan, dan secara moral sudah nyaris tumbang.

“Remember Marine, ours is not to question why, ours is but to do or die. Semper Fi. Over!” (Ingat-ingatlah marinir, bukan tugas kita mempertanyakan mengapa, tugas kita hanya melakukannya atau kita mati. Tetaplah setia. Ganti!)

Dalam penyerbuan pasukan Amerika ke pulau Saipan, Jepang, pada Perang Dunia II, pasukan marinir Amerika merekrut beberapa suku Indian Navajo sebagai penyampai pesan sandi (encoder) antar pasukan Amerika dalam bahasa Navajo.

Jepang sangat lihat mengintersepsi setiap pesan radio melalui teknologi komunikasi mereka saat itu. Satu-satunya cara adalah berkirim pesan sandi dalam bahasa yang tak pernah dipahami pasukan Jepang: bahasa Navajo.

Continue reading
Posted on 1 Comment

Futurism #2: Butterfly Effect

Editor : Heru Margianto

SATU hari Minggu yang tak begitu indah. Seekor tikus menemukan remah-remah makanan. Ia makan sebutir. Lalu berjalan terus sembari memakan butiran-butiran selanjutnya.

Ia tak berpikir soal kemana butiran remah-remah itu akan membawanya: ke jebakan tikus, atau ke sumber remah-remah yang lebih aduhai.

Saat ia menemukan sumber remah-remah adalah sebuah kantong kertas yang berlubang di atas meja makan, ia balik ke sarangnya dan mengajak dua saudaranya untuk menyerbu kantong bolong itu ramai-ramai. Ia tak tahu isinya apa. Yang jelas enak.

Continue reading
Posted on Leave a comment

Cool Village: True North, Kesejatian Yang Diperdebatkan

Editor Wisnu Nugroho

Saya selalu tertarik melihat cuplikan-cuplikan film Amerika saat fragmen menayangkan seseorang bersaksi di ruang pengadilan.

Bukan event-nya yang menarik, tetapi bagaimana kesaksian dimulai, dan lalu kita mendengar seorang saksi mengucapkan sumpahnya …”the truth, the whole truth, and nothing but the truth”.

Hmm, …whose truth? Yours, mine or theirs?

Continue reading
Posted on Leave a comment

E-Sport, Brain Game dan Samudera Peluang

Editor : Heru Margianto

“LIFE is a difficult game. You can win it only by retaining your birthright to be a person.” (A. P. J. Abdul Kalam)

Di basement rumahnya – yang juga jadi kamar tidur sekaligus ‘ruang kerjanya’, pemuda 31 tahun itu berbagi prinsip hidupnya.

“Begitu bangun, aku nyalakan komputerku dan langsung streaming, tanpa memberi tanda, tak ada webcam, tak ada apapun. Aku duduk dan mulai memainkan game Fortnite, lalu aku mulai berbicara sedikit. Itu satu-satunya cara yang kutahu untuk bisa kabur dari lubang hitam mentalku…”

Pemuda itu, Benjamin Lupo, seorang gamer profesional yang dikenal sebagai Dr. Lupo. Lupo mengisahkan bagaimana profesi sebagai gamer telah mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Tak ada lagi stereotype yang buruk terhadap game maupun para gamer-nya. Dengan 7 juta follower-nya, Lupo menampilkan permainan game ciamik yang nyaris absurd dilakukan kebanyakan gamer.

Lupo melakukannya melalui platform Twitch besutan Amazon yang secara khusus melakukan broadcasting permainan game secara live-stream ke seluruh dunia.

Ayah Lupo, seorang profesor psikologi di Creighton University, sangat bangga dengan pilihan profesi anaknya. Di basement rumahnya, Lupo menghabiskan waktu 80 jam per minggu untuk memainkan game Fortnite atau PUBG, dan ditonton jutaan penggemarnya secara live-stream.

Tampak aneh, tapi bukankah ia sudah menjadi selebriti?

Lupo telah menghasilkan 1 juta dolar per tahun sejauh ini, dan itu setara dengan kira-kira 92.000 dolar AS per bulan. 

Bandingkan dengan gaji rata-rata dokter umum di Amerika yang ‘hanya’ 294.000 dolar AS per tahun, atau gaji seorang dokter bedah syaraf di Amerika yang rata-rata gajinya 663.000 dolar AS per tahun.

New animal needs new Zoo

Kisah Lupo sempat membuat saya terperangkap dalam pikiran “ahh, ini lagi, anak muda yang anti-sosial yang hidup dalam dunia khayalan”. Tapi itu semua tiba-tiba berubah saat satu berita dari nun jauh di sana menghantam kepala saya.

Tujuh negara bagian di Amerika telah melegalkan eSport, julukan bagi aktivitas game online, menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Itu termasuk negara bagian Massachusetts di mana sekolah-sekolah dan kampus-kampus terbaik dunia berada: Harvard, MIT, dan Boston University.

Negara bagian lainnya, Georgia dan Texas, juga sudah melegalkan eSport sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah mereka.

Ada kah yang aneh? Massachusetts dan Georgia adalah dua negara bagian yang sangat menjunjung tinggi kualitas pendidikan. Tak ada yang namanya kurikulum abal-abal!

Ketujuh negara bagian itu tak ayal lagi akan menjadikan sebuah liga eSport yang bakal mentereng. Jangan heran, cepat atau lambat liga itu akan menjelma seperti NBA, NFL atau MLS yang sangat disegani di Amerika.

Amerika memang sangat jago mencipta sesuatu yang baru dengan modal otak encer: kreativitas dan intuisi bisnis.

Gayung pun bersambut. University of California Irive dan New York University kini menawarkan beasiswa untuk bidang video games, maka jalur karir untuk bidang eSport akan menyerupai jalur karir olahragawan tradisional di Amerika Serikat: mulai sebagai gamer berprestasi di SMA, lanjut beasiswa di universitas dan berakhir menjadi pemain pro.

Dan benarlah, bila eSport adalah spesies jenis baru, ia membutuhkan kebun binatang yang lebih sesuai untuknya. Kampus dan asosiasi profesi mungkin lingkungan yang paling bisa mewadahi spesies baru ini.

Otak kanan makin menggila!

Kok bisa begitu? Begini analisisnya.

Kasus Lupo dan diterimanya eSport sebagai bagian dari kurikulum formal di sekolah-sekolah di Amerika adalah bukti bahwa disrupsi tak hanya membunuh model bisnis lama, tetapi jauh lebih mencengangkan lagi, ia melahirkan bisnis-bisnis baru yang sangat cuan.

Amazon sendiri sebagai pemilik platform Twitch hanya tinggal menunggu waktu saja sampai industri game menjadi matang sebagai salah satu profesi yang prestisius seperti profesi lawyer, dokter, arsitek ataupun programmer.

Cepat atau lambat, Twitch akan panen rejeki dari produsen-produsen game yang pasang iklan besar-besaran di platform itu. Twitch akan menjadi rujukan para gamer seperti Khan Academy menjadi rujukan para home-schoolers.

Menurut data terbaru, proyeksi nilai bisnis eSport global di tahun 2019 ini menyentuh angka 1 miliar dolar AS dengan jumlah penonton pada akhir tahun diproyeksi mencapai 454 juta orang.

Itu jumlah yang nyaris menyamai jumlah populasi Uni Eropa (508 juta jiwa!). Data ini – meski awalnya tampak sangat over-confident – akan segera menjadi data purba yang terlalu meremehkan.

Anak-anak sekarang mulai mengenal game komputer dalam usia yang sangat muda, belum lulus SD pun kebanyakan sudah mahir memainkannya, sehingga saat SMP maupun SMA mereka sudah mahir berkompetisi dalam liga-liga kecil. Saat uang besar berbicara, tidakkah mereka tertarik untuk menekuni karir sebagai gamer ketimbang mendaftar di universitas?

Belasan tahun lalu Lupo mendapatkan banyak sindirian karena terlalu lama berada di depan konsol video atau desktop-nya hanya untuk bermain game.

Tak terpikirkan bahkan olehnya sendiri bahwa hari ini mata pencahariannya datang dari game, termasuk menandatangani iklan (endorsement) dengan salah satu perusahaan asuransi besar Amerika State Farm.

Ia sudah setara dengan bintang NFL Aaron Rodgers maupun bintang NBA Chris Paul yang sama-sama mendapatkan endorsement dari State Farm.

Bisnis eSport tak lagi peduli pada pepatah ‘mens sana in corpore sano’ (terdapat jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat). Mungkin malah akan ada banyak kasus sakit punggung dan pinggang karena kelamaan duduk memelototi layar monitor, atau kasus sakit mata yang sangat parah pada anak-anak usia muda.

Penghasilan industri penyedia game, industri pendidikan yang menawarkan kurikulum eSport, dan penghasilan para gamer yang sangat aduhai telah menafikan risiko-risiko itu. Dengan penghasilan yang sangat berlimpah, tak ada penyakit yang perlu dikeluhkan lagi.

Industri eSport terbukti telah berhasil mengisi kekosongan yang selama ini belum bisa diberikan secara generous oleh industri lain: bermain, have fun, tak harus terikat jam kerja 8 to 5, dan lebih bagus lagi, …dibayar mahal!

Industri ini memang banyak bermain di otak kanan, orang-orang harus merasa nyaman dahulu, mereka akan bilang, ini gue banget!

What to expect?

Industri eSport hanyalah salah satu dari beberapa pertanda baik bahwa saat ini apapun yang anda lihat dan dengar adalah peluang. Tak ada yang tak mungkin.

Seperti otak kanan yang tak mau dipaksa 3 x 4 harus 12, industri ini membuka mata kita semua bahwa zaman baru telah meletakkan landasan yang sangat kuat bagi lahirnya bisnis-bisnis berbasis kreativitas yang kelak akan mengeksploitasi what we think dan how we feel, bagaimana kita berinteraksi dengan dunia maya serta mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari dunia itu.

Menyusul eSport, tak lama lagi bloger dan vloger (termasuk youtuber) akan menjadi profesi yang sama mulianya dengan psikolog, psikiater, konsultan perkawinan, konsultan keuangan, atau profesi prestisius lainnya.

Hari ini mungkin kita hanya melihat mereka ‘dititipi dan disisipi’ iklan sebagai bagian dari endorsement, kelak, jangan heran bila mereka menjadi perusahaan iklan itu sendiri.

Hampir dua dekade lalu HBO menggoyang produser-produser film Hollywood karena memproduksi sendiri film serinya yang laris manis, Band of Brothers.

Hari ini gantian HBO yang sedikit digoyang karena Netflix dengan model bisnis berbeda (melalui streaming) pun melakukan hal yang sama (dari tahun 2012 memproduksi film sendiri).

Tak ada yang abadi. Hari ini kita menjadi predator, tahun depan mungkin menjadi mangsa.

Hal yang patut kita cermati bila kita ragu akan munculnya industri baru yang mungkin tak jelas akan menjadi seperti apa, tunggu saja sebentar. Bila dunia akademis dan investor besar telah meminangnya menjadi bagian dari keseluruhan ekosistem yang mereka bangun, maka itulah tanda bagi anda untuk boleh berucap: industri ini sudah matang dan siap mengangkasa!

Dan saya manggut-manggut sambil mengingat pepatah lama… “We need money. We need hits. Hits bring money, money bring power, power bring fame, fame change the game.” (Young Thug).

Seperti saya, Benjamin Lupo pun hanya bisa tersenyum, ia bahkan tak menyangka menjadi tenar dan bergelimang uang karena game.

Semper Fi!

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “E-Sport, Brain Game dan Samudera Peluang”, https://money.kompas.com/read/2019/05/06/075748326/e-sport-brain-game-dan-samudera-peluang?page=all.

Editor : Heru Margianto

Posted on 1 Comment

Tips Meningkatkan Produktivitas di Kantor

Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak perusahaan yang kehilangan separuh dari total jumlah karyawannya karena perekonomian serta bisnis sedang tidak bagus. Produktifitas menjadi terganggu, dan sisa-sisa energi untuk menyelamatkan bisnis menjadi tertekan.

Hal di atas seharusnya tidak perlu terjadi bila para top management memahami matematika produktifitas dengan rumus yang sangat populer Continue reading Tips Meningkatkan Produktivitas di Kantor